Jumat, 24 Juni 2016

Motivasi dan tujuan penelitian serta telaah teoritis


Beberapa hal penitng yang patut diperhatikan oleh siapapun yang mengadakan penelitian. Hal-hal penitng itu diuraikan sebagai berikut.

Motivasi Penelitian

Penelitian selalu dimulai dengan adanya dorongan, baik yang berasal dari dalam diri maupun di luar diri si peneliti. Motivasi itu tidak lain keinginan seseorang atau sekelompok (tim) untuk mengetahui sesuatu melalui proses ilmiah. Jadi, keinginan seseorang atau sekelompok orang untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan dasar dorongan untuk mengadakan penelitian. Kegiatan penelitian itu dimulai ketika seseorang atau sekelompok orang menaruh perhatian pada sesuatu yang ada (fakta) di sekitar lingkungan di mana manusia berada.
Perhatian seseorang atau sekelompok orang terhadap fakta-fakta yang diamati secara mendalam akan melahirkan berbagai pertanyaan. Keinginan mempertanyakan seseorang atau sekelompok orang yang mempertanyakan sesuatu yang menjadi perhatiannya akan diikuti oleh usaha untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri peneliti. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi suatu masalah yang memerlukan solusi atau jawaban (bnd. Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:2)

Tujuan Penelitian

a. Untuk mendapat pengetahuan yang dapat menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah
b. Untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan

Metode Ilmiah

Metode ilmiah adalah prosedur atau cara-cara tertentu yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang disebut ilmu (pengetahuan ilmiah). Tidak semua pengetahuan disebut ilmu, karena ilmu merupakan pengetahuan yang memiliki kriteria tertentu. Kriteria inilah yang membedakan tahu biasa dengan pengetahuan yang disebut ilmu. Pengetauhuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasa dan berpikir yang menjadi dasar seseorang dalam dalam bersikap dan bertindak. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang memberikan penjelasan mengenai fakta atau fenomena alam (bnd. Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:5)

Kebenaran
a. Kebenaran iman
Berdosa dinyatakan benar di hadapan Allah

b. Kebenaran Yesus Kristus
Yesus Kristus adalah logi Allah. Logi Allah pasti tidak ada kesalahan didalamnya. Jadi, Yesus adalah kebenaran berarti Yesus sempurna, tidak ada kesalahan dalam diri-Nya. Yesus jujur

c. Kebenaran rasional

Kebenaran pikiran yang dikembangkan dari satu pikiran ke pikiran yang lain yang telah diakui benar. Artinyanya pengetahuan yang ada dalam diri seseorang tentang sesuatu hal bersesuaian dengan hasil pikiran terdahulu. Bila dihubungkan dengan penelitian maka kebenaran rasional itu ada dalam Bab II (Kajian Teori)

d. Kebenaran empiris

Kebenaran empirian adalah pengetahuan seseorang terhadap sesutu fakta sesuai dengan fakta yang terjadi di tempat penelitian atau di tempat di mana berlangsung sebuah atau beberapa peristiwa atau kejadian atau tokoh atau benda yang diamati dan dihasilkan dalam bentuk informasi dan informasi tersebut bersesuaian dengan fakta tersebut.

Pengetahuan yang benar

Pengetahuan yang benar merupakan kombinasi dari dua sisi kebenaran yaitu rasional dan empiris. Rasional artinya pengetahuan yang diperoleh didasarkan pada penalaran, sedangkan kebenaran empiris adalah menggunakan fakta atau fenomena empiris sebagai sumber kebenaran untuk menyusun pengetahuan. Kebenaran rasional selalu menggunakan pendekatan rasional. Pendekatan rasional selalu menyusun pengetahuan secara konsisten dan kumulatif berdasarkan pada pengetahuan-pengetahuan yang telah tersusun sebelumnya (ada dalam buku-buku). Artinya, suatu pengetahuan disusun berdasarkan pada penalaran yang konsisten dengan penalaran pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Adanya konsistensi penalaran antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan-pengetahuan yang telah tersusun sebelumnya menunjukkan bahwa konstruksi pengetahuan baru merupakan pengembangan secara komulatif dari pengetahuan-pengetahuan yang telah disusun sebelumnya. Sedangkan empiris merupakan pendekatan untuk memperoleh pengetahuan yang memisahkan antara pengetahuan yang diperoleh berdasarkan fakta dengan pengetahuan yang tidak berdasarkan fakta. Pengetahuan yang benar menurut pendekatan empirisisme adalah pengetahuan yang disusun berdasarkan fakta atau fenomena. Pengetahuan yang rasional tetapi tidak didukung oleh fakta, menurut pendekatan empirisisme bukan merupakan pengetahuan yang benar (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:6)

Telaah Teoritis

Dalam penelitian ilmiah selalu ada yang disebut telaah teoritis. Telaah teoritis dapat pula disebut dengan beberapa istilah seperti: kajian teoritis, kerangka teoritis, atau landasan teoritis. Bagian ini biasanya dilakukan dalam Bab II. Dalam hal ini, telaah teoritis atau kajian teoritis/kerangka teoritis/landasan teoritis merupakan tahap dalam proses penelitian yang bertujuan untuk menyusun kerangka teoritis yang menjadi dasar untuk menjawab masalah atau pertanyaan penelitian. Agar penelitian menghasilkan jawaban yang dapat diterima sebagai sumber kebenaran, diperlukan teori-teori untuk menjelaskan fakta yang diteliti. Telaah teoritis merupakan bagian dari proses penelitian yang memberikan jawaban masalah penelitian secara rasional atau berdasarkan penalaran. Telaah teoritis merupakan tahap penelitian yang menguji terpenuhinya kriteria pengetahuan yang rasional.
Menurut Indriantoro dan Supomo, proses sebagaimana yang dikemukan di atas itu membutuhkan elaborasi oleh peneliti terhadap pengetahuan-pengetahuan teoritis yang relevan dengan masalah yang diteliti (masalah penelitian). Teori-teori yang ditelaah berasal dari literatur seperti buku-buku, dan hasil-hasil penelitian sebelumnya (skripsi, tesis dan disertasi, penelitian mandiri dll). Telaah teoritis ini sering disebut telaah literatur atau literature review. Dalam konteks pemahaman ini, jawaban masalah atau pertanyaan penelitian dari proses telaah teoritis yang dilakukan peneliti merupakan dugaan-dugaan yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang disebut hipotesis yang perlu diuji. (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002:10)

Berlanjut!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Senin, 02 Mei 2016

Kajian Teori Pelayanan Bimbingan

Menurut Sutirna mengemukakan beberapa pengertian tentang bimbingan, yakni: (1) bimbingan adalah bantuan kepada individu dalam membuat suatu pilihan yang cerdas untuk mengatasi masalah dalam kehidupan yang dihadapi orang yang dibimbing. (H. Sutirna,2013:145) Kedua, bimbingan adalah bantuan pemecahan masalah seseorang, sehingga dapat membuat keputusan yang terbaik atau dengan kata lain dengan bimbingan diharapkan memperoleh sebuah solusi dan perencanaan yang tepat. Dalam hal ini pembimbing harus dapat memberikan gambaran tentang cara pandang yang salah untuk mempersiapkan masa yang akan datang. Ketiga, bimbingan adalah upaya untuk membuat setiap individu akrab dengan berbagai informasi tentang dirinya, kemampuannya, perkembangan dirinya sebelumnya diberbagai bidang kehidupan , dan rencana di masa depan (H. Prayitno dan Erman Amti , 2013:145)
H. Prayitno dan Erman Amti mengutip definisi Crow & Crow yaitu bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki-laki atau perempuan, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. Selanjutnya mengutip Tiedeman dalam Bernard dan Fulmer yaitu bimbingan adalah membantu seseorang agar menjadi berguna, tidak sekadar mengikti kegiatan yang berguna. H. Prayitno dan Erman Amti, 2013:94)
Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat dikatakan bahwa bimbingan berarti bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang memerlukannya. Bimbingan tersebut diberikan kepada setiap orang, namun diprioritaskan kepada individu-individu yang membutuhkannya atau benar-benar harus dibantu. Bila dikatalan bahwa bimbingan adalah bantuan terarah dan tersruktur untuk menolong orang yang benar-benar membutuhkan maka bimbingan merupakan suatu proses yang bersifat kontinue, tidak hanya diberikan sewaktu-waktu saja, dan secara kebetulan, namun merupakan kegiatan yang terus-menerus, sistematis, terencana dan terarah pada tujuan. Bimbingan diberikan agar individu mengembangkan dirinya semaksimal mungkin, menyesuaikan diri secara harmonis dengan lingkungan. Bimbingan dapat diberikan, baik untuk menghindari kesulutan-kesulitan maupun untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh individu di dalam kehidupannya.
Bila dihubungkan dengan bimbingan pernikahan Kristen maka dalam gereja diperlukan adanya organisasi bimbingan dimana terdapat pembagian tugas, peranan, dan tanggungjawab yang tegas diantara para petugasnya. Selain itu adanya program yang jelas dan sistematis untuk melakaksanakan penelitian yang mendalam tentang diri murid-murid, melaksanakan penelitian tentang kesempatan yang ada, kesempatan bagi muris untuk mendapat bimbingan dan konseling secara teratur, adanya personil yang tarlatih untuk melaksanakan konseling, adanya fasilitas yang memadai, kerjasama yang sebaik-baiknya antara gereja (pendeta) dan keluarga.

Riset Rumusan Standar Kompetensi Mata Kuliah

Penelitian tentang perumusan Standar Kompetensi Mata Kuliah
Berikut ini saya memposting salah satu penelitian tentang perumusan satndar kompetensi dalam mata kuliah Apologetika. Rumusan standar kompetensinya sebagai berikut: Mahaiswa mampu berpikir mendalam/radikal terhadap apologetika, khususnya apologetika Kristen serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus di tengah masyarakat multicultural, khususnya dalam kompetisi “kreativitas” dan “inovasi” yang merupakan “roh” dari Masyarakat ekonomi Asean atau MEA 2016.
Dalam rumusan di atas ditopang dengan teori penjabaran tentang perubahan yang diharapkan dalam mata kuliah Apologetika atau Filsafat Apologetika. Perubahan yang diharapkan dalam Standar Kompetensi Mata Kuliah "Apologetika" sebagaimana dalam rumusan di atas. Penjabaran Perubahan yang diharapkan dari belajar mata kuliah Apologetika sesuai rumusan SK di atas, yakni agar mahasiswa setelah belajar Apologetika dalam waktu enam bulan menunjukkan perubahan dalam: Kognitif (perubahan pengetahuan): seperti perubahan dalam hal: mengetahui/menghafal/mengingat (knowledge); perubahan dalam pemahaman (comprehension), perubahan dalam penerapan (application), perubahan dalam analisis (analysis), perubahan dalam sintesis (syntesis), perubahan dalam penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation) terhadap Apologetika yang dipelajarinya dalam kurun waktu satu (1) Semester atau enam (6) bulan. Afektif (Sikap). Perubahan ini berhubungan dengan sikap dan nilai dari para mahasiswa/yang mempelajari mata kuliah Apologetika. Perubahan ranah afektif dari pembelajar mata kuliah ini yakni mengalami perubahan watak perilaku seperti: perasaan terhadap mata kuliah apologetika, minat terhadap mata kuliah apologetika, sikap terhadap mata kuliah apologetika, emosi, dan nilai terhadap mata kuliah dan bagaimana mempengaruhi dalam keseluruhan ranah afektif dari peserta mata kuliah apologetika. Perubahan ini ditopang juga dengan perubahan kognitif. Artinya menurut pakar pendidikan yang menyatakan diperkirakan berubah apabila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi terhadap materi yang dipelajari. Jadi, perubahan afektif sebagai hasil belajar ditandai dengan ciri-ciri yakni hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Selanjutnya perubahan ranah afektif meliputi beberapa tingkatan, yaitu: perubahan dalam hal: Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan), Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”, Valuing (menilai atau menghargai), Organization (mengatur atau mengorganisasikan), Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai) Psikomotorik (Ketrampilan). Perubahan dalam ranah psikomotorik dari peserta didik yang mengikuti mata kuliah Apologetika yaitu mahasiswa mengalami perubahan dalam keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah mahasiswa mengikuti atau menerima pengalaman belajar mata kuliah Apologetika. Perubahan psikomotorik merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Perubahan dalam ranah psikomotor mahasiswa dalam mata kuliah Apologetika yakni perubahan yang berkorelasi dengan aktivitas fisik, yaitu kemampuan dalam melakukan Apologetika. Perubahan mahasiswa dalam keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui: (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung terhadap Apologetika, (2) sesudah mengikuti pembelajaran Apologetika, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan pelayanannya, seperti di Gereja dan Sekolah. Selanjutnya dibangun teori pendefinisian tentang Apa itu “Filsafat Apologetika”.
Sudah menjadi tradisi akademis setiap pergantian semester selalu ada tugas mengajar yang diberi oleh sekolah melalui bidang akademik kepada setiap dosen untuk mempersiapkan diri dalam hal mengajar di semester baru. Salah satu mata kuliah yang dipercayakan kepada saya untuk disampaikan dalam semester Januari – Mei 2016 yakni mata kuliah “Apologetika”. Ketika menerima Jadwal didalamnya tertulis mata kuliah “Filsafat Apologetika”. Sebelumnya saya sudah mempersiapkan materi “Apologetika” tetapi persipan tersebut harus mengalami perubahan sesuai dengan nama mata kuliah yaitu: “Filsafat Apologetika”. Paradigmanya penyajian materi kuliah tentu berbeda, materi “Apologetika” tentu berbeda makna dengan materi “Filsafat Apologetika”. Saya berharap mahasiswa telah siap dalam berpikir “filsafat”. Kesiapan ini penting karena kita akan mengkaji “Apologetika” (Apaologetika Kristen) dalam pendekatan atau cara kerja filsafat.
Itulah sebabnya dalam studi “Filsafat Apologetika”, saya mengajukan pertanyaan pertama: Apa itu “Filsafat Apologetika”? Menjawab pertanyaan ini, perlu kita lakukan dua hal pokok, yaitu berusaha mencari arti filsafat dan apologetika, kemudian kita meneruskannya dengan merumuskan pengertian filsafat apologetika, serta pokok-pokok selanjutnya yang sesuai dengan kompetensi yang hendak diwujudkan oleh para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah “Filsafat Apologetika”.
Kini kita memulai usaha memberi jawaban atas pertanyaan: Apa itu “Filsafat Apologetika” dengan usaha mencari makna kata filsafat, apologetika dan filsafat Apologetika.

Kita mulai dengan arti filsafat.

Berdasarkan pengalaman ketika menjadi mahasiswa yaitu ada sejumlah kesulitan memahami apa pengertian filsafat yang secara teknis operasional mendarat dan menjiwai seseorang dalam belajar filsafat dan menerapkannya. Saya kemudian mendapat salah satu jawaban, yaitu usaha mengerti filsafat secara baik, terukur dan mengyemangati roh filsafat dalam diri pelaku studi filsafat yaitu dengan memahami percakapan Sokrates dan murid-muridnya.
Robert R. Boehlke dalam bukunya berjudul “Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen dari Plato sampai Ig. Loyola (2013:2-3) mengutip Muchtar Jahya tentang contoh gaya mengajar Sokrates yang dibuat oleh Guru besar John Adams dari Universitas Oxford dengan isi tanya jawab sebagai berikut.
Sokrates: “Apakah yang dimaksud dengan serangga (insect) itu?
Murid: “Serangga ialah binatang kecil bersayap.” (Murid yakin bahwa jawabannya itu benar)
Sokrates: Kalau begitu, tentu ayampun boleh kita namai serangga.”
Murid: Ayam bukan demikian kecilnya hingga dapat dinamai serangga. Ayam itu amat besar kalau dibandingkan dengan serangga.”
Sokrates: “Jadinya: Serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap.”

Murid: “Betul!”
Sokrates: “Kalau demikian, burung pipit dapat dinamai serangga, sebab dia demikian kecilnya”.
Murid: “Tidak! Burung sekali-kali tidak dapat dinamai serangga, sebab dia demikian kecilnya.”
Sokrates: Jadinya: Serangga ialah binatang yang amat kecil, dia bersayap, tetapi bukan dari jenis burung.”
Murid: “Benar” Sokrates: “Kemarin saya memasuki salah satu took, di dalamnya saya melihat kaleng-kaleng kecil. Pada masing-masing kaleng itu tertulis: Tepung keating yang paling manjur untuk memberantas serangga.” Pada masing-masing kaleng itu tergambar beberapa macam binatang kecil bukan dari jenis burung, tetapi tidak ada mempunyai sayap, umpama pijat-pijat, kutu kucing dll. Rupa-rupanya mereka salah menamakan binatang-binatang tersebut serangga, sebab masing-masing tidak bersayap. Adakah masuk akal serangga tidak bersayap, menurut yang telah kita tetapkan itu?”
Murid: “Binatang-binatang tersebut memang serangga, semua orang tahu itu.”
Sokrates: “Aneh, aneh. Apa pulakah arti serangga sekarang, menurut pikiranmu. Apakah sekaran kau berpendapat bahwa “Serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap, bukan dari jenis burung, dan kadang-kadang tidak bersayap.’ Sesungguhnya perkataan ini amat berlawan-lawanan.”
Murid: “Celaka! Pertanyaan-pertanyaan orang ini membosankan. Coba tuan sendiri yang menerangkan kepada kami, apa arti serangga itu, supaya kami puas dan tuanpun puas.” Sokrates: “Bukankah dari tadi saya bilang padamu bahwa saya sendiri pun tidak mengetahui.
Sekarang mari kita periksa bersama-sama, moga-moga kita sampai pada hakikat sebenarnya. Jalan yang paling baik ialah kita ambil 3 atau 4 ekor serangga dari jenis yang bermacam-macam, kemudian kita bandingkan satu dengan yang lain, untuk mengetahui sifat-sifat yang sama. Apakah serangga yang akan kita ambil?” Murid: “Mari kita ambil kupu-kupu, semut, kerangga dan kumbang
Sokrates: “Bagus”
Berdasarkan jenis-jenis serangkan itu mereka merumuskan berdasarkan fakta tentang “apa itu serangga?”
Serangga ialah binatang beruas, kulitnya kesat, lagi keras, kakinya enam, mempunyai sayap, atau bekas sayap.”
Berdasarkan percakapan dialogis di atas, kita belajar apa artinya berpikir radikal/mendalam terhadap salah satu realitas (Salah satnya: Serangga). Mudah-mudahan dialog diatas menolong kita memahami apa itu filsafat dalam arti berpikir mendalam/radikal terhadap realitas dan merumuskan realitas tersebut yang kemudian menghasilkan kebenaran. Belajar filsafat memang menyenangkan tetapi juga membingungkan. Hal yang terakhir ini disebabkan karena terdapat ragam pengertian tentang filsafat. Saya tidak menjanjikan dan menjamin bahwa materi ini memberi sumber pemahaman yang tuntas tentang apa itu filsafat. Hal itu sulit diwujudkan. Namun perlu disadari bahwa keragaman pengertian filsafat bukanlah sesuatu yang menyesatkan, hal itu wajar saja karena setiap orang memberi arti sesuai dengan pemahamannya. Selanjutnya sesuai dengan topik yakni "pengertian filsafat" maka dalam postingan ini saya menjelaskan tentang pengertian filsafat. Pengertian yang saya paparkan ini telah mendorong/mensemangati saya dalam mengajar Filsafat Ilmu dalam bidang Pendidikan Kristen maupun Teologi Penggembalaan. Menurut Jan Hendrik Rapar, filsafat adalah mater scientiarum atau induk ilmu pengetahuan karena memang filsafatlah yang telah melahirkan segala ilmu. Menurut para rohaniawan dan teolog menyatakan filsafat sebagai “ancilla theologiae”, yaitu budak atau pelayan teologi. Sebagai pelayan teologi, filsafat memiliki tugas memformulasikan argumentasi-argumentasi yang kuat untuk membela isi iman Kristen. Ada pula rohaniawan dan teolog yang menuding filsafat sebagai alat iblis terkutuk. Karena itu harus ditolak oleh semua orang beriman. Tudingan ini tidak sepenuhnya benar, Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai robot, manusia memiliki pikiran. Dengan pikiran itu manusia berfilsafat (berpikir). Namun tidak kegiatan berpikir dikategorikan filsafat. Berpikir yang dikategorikan filsafat adalah berpikir yang berlangsung dalam syarat-syarat tertentu (Rapar, 2000:12-13). Memang harus diakui bahwa berpikir yang berciri filsafat dapat membawa seseorang pada dua pilihan, yaitu kesetiaan kepada iman atau penyimpangan iman (alias tidak mengakui adanya Tuhan). Oleh karena itu berfilsafat harus berlangsung dalam kawalan iman dan perlindungan kasih.
Untuk memahami filsafat, maka saya merumuskan pengertian filsafat dalam dua pendekatan. Pertama, secara etimologi dan kedua secara konseptual (definisi para ahli filsafat). Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, dari kata “philosophia”. Kata “philosophia” merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata: “philos” dan “Sophia”. Kata “philos” berarti kekasih, atau bisa juga sahabat. Sedangkan “Sophia” berarti kebijaksanaan atau kearifan atau juga pengetahuan.
Jadi, arti harafiah “philosophia” berarti yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan.

Definisi para ahli:

Plato dalam Jan Hendrik Rapar menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada atau filsafat adalah usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus (Louis O. Kattsoff, 1996:2). Aristoteles (Murid Plato) mengemukakan beberapa pengertian filsafat. Pertama, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada. Kedua, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari “peri ada selaku peri ada” (being as being) atau peri ada sebagaimana adanya (being as such).
Rene Descartes (Filsuf Prancis)
Argumen yang terkenal dari Descartes yakni: “Aku berpikir maka aku ada” (cogito ergo sum). Jadi, filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia. William James (Filsuf Amerika), Filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. R.F. Beerling (mantan guru besar filsafat UI) menyatakan filsafat adalah suatu usaha untuk mencari radix atau akar pengetahuan tentang diri sendiri. Louis Kattsoff, filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Kegiatan kefilsafatan ialah pemikiran secara sistematis. Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh/komprehensif (Louis O. Kattsoff, 1996:3-4, 6, 12) Berpikir radikal (berpikir mendalam) tidak berarti mengubah, membuang, atau menjungkirbalikan segala sesuatu, melainkan dalam arti sebenarnya, yaitu berpikir secara mendalam untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan. Berpikir radikal sebenarnya hendak memperjelas realitas, lewat penerimaan serta pemahaman akan akar realitas itu sendiri (Rapar, 2000:21) Yonas Muanley, filsafat adalah berpikir radikal atau berpikir mendalam terhadap realitas (realitas/ada secara menyeluruh maupun salah satu realitas). Salah satu realitas itu yakni “apologetika” (pembelaan) yang dilakukan orang Kristen.

Sabtu, 30 April 2016

Kerangka Penelitian Teologi dengan metode kuantitatif dan kualitatif


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Batasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Pentingnya Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Kajian Teoritis
1. Hakikat Variabel Y
2. Hakikat Variabel X1
3. Hakikat Variabel X2
4. Hakikat Variabel X3
5. Hakikat Variabel X4
6. Hakikat Variabel X5
7. Hakikat Varibel X6
8. Hakikat Variabel X7
9. Hakikat Varibel X8
10. Hakikat Variabel X9
11. Hakikat Variabel X10
12. Hakikat Variabel X11
B. Kerangka Berpikir
1. Uraian dari rumusan masalah pertama
2. Uraian dari rumusan masalah kedua
3. Uraian dari rumusan masalah ketiga
4. Uraian dari rumusan masalah keempat
5. Uraian dari rumusan masalah kelima
6. Uraian dari rumusan masalah keenam
7. Uraian dari rumusan masalah ketujuh
8. Uraian dari rumusan masalah kedelapan
9. Uraian dari rumusan masalah kesembilan
10. Uraian dari rumusan masalah kesepuluh
11. Uraian dari rumusan masalah kesebelas

C. Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan lokasi penelitian
B. Jenis Penelitian
C. Populasi
D. Tehnik Sampling
E. Besar Sampel
F. Variabel Penelitian
G. Hubungan antar varibel atau disain variabel penelitian
H. Teknik pengumpulan data
I.Instrumen Penelitian
J. Teknik Analisa Data

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Deskripsi Data
1. Variabel Y
2. Variabel X1
3. Variabel X2
4. Variabel X3
5. Variabel X4
6. Variabel X5
7. Varibel X6
8. Variabel X7
9. Varibel X8
10. Variabel X9
11. Variabel X10
12. Variabel X11
B. Uji Persyaratan Analisis
C. Uji Hipotesis

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran
1. Saran Praktis
2. Saran Penelitian Lanjutan
3. dll

KRANGKA PENELITIAN KUALITATIF (Penelitian menemukan teori)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Fokus Penelitian
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Pentingnya Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI

A. Efektifvitas Proses Pembelajaran PAK
B. Pembelajaran Kontekstual
C. Pendekatan Pembelajaran Rekonstruksi
D. Pendekatan Pembelajaran Nativisme
E. Pendekatan Pembelajaran Empiris
F. Pendekatan Pembelajaran Konfergensi
G. Pendekatan Pembelajaran “Kogito Ergo Sum”
H. Pendekatan Pembelajaran “Aku Tahu Baru Percaya”
I. Pendekatan Pembelajaran “Aku Percaya Baru Mengerti”
K. Pendekatan Pembelajaran “Aku Menerima Perasaan maka Aku Ada”
L. Pendekatan Pembelajaran “Dimana ada sinyal Internet”

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode penelitian
B. Langkah-langkah Penelitian
C. Tempat Penelitian
D. Informan dan Sampel
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Analisa Data Kualitatif
F. Pengujian Kredibilitas Data
G. Temuan Hipotesis
H. Teknik pengumpulan data
I. Instrumen Penelitian
J. Teknik Analisa Data

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran
1. Saran Praktis
2. Saran Penelitian Lanjutan
3. dll

Beberapa penjelasan:

Penelitian Kuantitatif bertujuan menuji teori maka dalam kerangka penelitian kualitatif terdapat Hipotesis, sedangkan penelitian kualitatif bertujuan menemukan teori. Oleh karena itu maka dalam kerangka Bab III tidak ada Hipotesis, penelitian kualitatif berusaha menemukan teori. Pengertian Kerangka Berpikir

Pengertian Kerangka Berpikir adalah penjelasan sementara terhadap suatu gejala yang menjadi objek permasalahan yang diteliti. Kerangka berpikir iini disusun dengan berdasarkan pada tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan atau terkait.
Kerangka berpikir ini merupakan suatu argumentasi penulis yang akan menghantar pada perumuskan hipotesis. Dalam merumuskan suatu hipotesis, argumentasi kerangka berpikir menggunakan logika deduktif (untuk metode kuantitatif) dengan memakai pengetahuan ilmiah sebagai premis premis dasarnya.
Kerangka berpikir merupakan buatan penulis, bukan dari pendapat orang lain. Dalam hal ini, bagaimana cara kita berargumentasi dalam merumuskan hipotesis. Argumentasi itu harus membangun kerangka berpikir yang merujuk pada pernyataan-pernyataan yang disusun sebelumnya. Dalam hal menyusun suatu kerangka berpikir, sangat diperlukan argumentasi ilmiah yang dipilih dari teori-teori yang relevan atau saling terkait. Agar argumentasi kita diterima oleh sesama ilmuwan, kerangka berpikir harus disusun secara logis dan sistematis.
Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan peda kerangka berpikir Kerangka berpikir yang meyakinkan hendaklah memenuhi kriteria kriteria sebagai berikut.

1. Teori yang digunakan dalam berargumentasi hendaknya dikuasai sepenuhnya serta mengikuti perkembangan teori yang muktahir.
2. Analisis filsafat dari teori-teori keilmuan yang diarahkan kepada cara berpikir keilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut harus disebutkan secara tersurat semua asumsi, prinsip atau postulat yang mendasarinya.
Penyusunan kerangka berpikir dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan ini akhirnya melahirkan suatu kesimpulan. Kesimpulan tersebut yang menjadi rumusan hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap pemecahan masalah penelitian kita.

Contoh Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kompetensi mengajar dosen, motivasi berprestasi dosen baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika (Y). Kerangka logis hubungan antara variable-variabel tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Hubungan Kompetensi Mengajar Dosen dengan Efektivitas Proses Pembelajaran kelompok Mata Kuliah Historika (Contoh rumusan hipotesis ini diambil dari tesis Yonas Muanley)

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kompetensi mengajar dosen merupakan bagian integral yang menyatu dalam diri dosen untuk melaksanakan tugas mengajar sehingga kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif.
Jika ditarik ke dalam konteks penelitian ini, para dosen yang menghendaki terjadinya proses pembelajaran yang efektif hendaknya memiliki sejumlah kompetensi yang dipersyaratkan. Dalam hal ini kompetensi mengajar dosen merupakan seperangkat karakteristik yang dimiliki seorang dosen sehingga memungkinkannya mencapai tujuan pembelajaran yang dialami mahasiswa. Karakteristik tersebut cendrung tidak tampak secara nyata, namun dapat diamati secara berkesinambungan. Sesuai dengan persyaratan atau ketetapan yang telah dinyatakan sebelumnya, terdapat 10 karakteristik kompetensi mengajar dosen. Dengan memiliki karakteristik-karakteristik kompetensi mengajar tersebut, besar kemungkinan dosen akan dapat melaksanakan proses pembelajaran secara efektif. Alasannya adalah bahwa karakteristik-karakteristik ini merupakan modal dasar yang memungkinkan seorang dosen akan melaksanakan tugas mengajar secara efektif.
Jika faktor kompetensi ini dikaitkan dengan efektifitas proses pembelajaran maka kemampuan tersebut akan membuat seorang dosen mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini berarti bahwa makin tinggi kompetensi yang dimiliki dosen maka besar pula kecendrungan untuk mencapai efektifitas proses pembelajaran. Jadi semakin baik kompetensi yang dimiliki dosen semakin baik pula mencapai tujuan pembelajaran
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar dosen dengan efektifitas proses pembelajaran (pencapai tujuan pembelajaran). Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dosen, makin tinggi efektivitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.

1. Hubungan Motivasi Berprestasi Dosen dengan Efektifitas Proses Pembelajaran Kelompok Mata Kuliah Historika (Contoh rumusan hipotesis ini diambil dari tesis Yonas Muanley)

Motivasi berprestasi merupakan keinginan dan kecendrungan seorang dosen untuk melaksanakan pekerjaan sebaik dan secepat mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, baik oleh dosen itu sendiri maupun oleh lembaga atau pihak lain. Dorongan ini terjadi secara internal dan merupakan dinamika atau daya pendorong bagi setiap dosen, secara khusus dosen historika untuk mengerjakan pekerjaan mengajar sebaik mungkin tanpa mempertimbangkan imbalan-imbalan yang bersifat material yang akan diterimanya atau diberikan oleh lingkungan di mana ia bekerja.
Apa yang dikatakan di atas menegaskan bahwa dosen historika yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki kecendrungan untuk lebih unggul dari yang lain, memilih tugas yang tingkat kesulitannya cukup menantang atau cukup moderat dan lebih tertarik kepada pencapaian pribadi atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, ingin berhasil dalam situasi persaingan. Dengan kata lain semakin tinggi motivasi berprestasi, semakin tinggi hasrat dan kecendrungan seorang dosen mengerjakan pekerjaan mengajar sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, motivasi berprestasi merupakan daya pendorong yang mendasar bagi setiap dosen untuk melaksanakan tugas mengajar sebaikmungkin, tanpa mengharapkan imbalan-imbalan eksternal yang mungkin akan diperolehnya jika berhasil.
Dosen yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cendrung untuk selalu berusaha unggul, memiliki kecendrungan memilih tugas mengajar yang tingkat kesulitannya moderat, lebih tertarik pada pencapaian pribadi dari pada imbalan yang diperoleh atas keberhasilannya, lebih tertarik pada situasi yang dapat memberikan umpan balik secara konkrit atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan mengajar sebaik mungkin. Ingin lebih berhasil dalam situasi persaingan, mengerjakan pekerjaan yang menghendaki ketrampilan dan usaha, ingin mendapatkan pengakuan, mengerjakan tugas yang dianngap penting, dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan baik.
2. Hubungan Kompetensi Mengajar Dosen, Motivasi Berprestasi Secara Bersama-sama dengan Efektifitas Proses Pembelajaran Kelompok Mata Kuliah Historika di Sekolah Tinggi Theologia .......... (diambil dari Tesis Yonas Muanley)

Kompetensi mengajar diartikan seperangkat karekteristik yang dimiliki seorang dosen sehingga memungkinkannya melakukan transfer pengetahuan kepada para mahasiswa dan sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki mahasiswa tersebut secara lebih optimal dalam arti untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Karakteristik tersebut terkait erat dengan kemampuan mentransfer pengetahuan dan membimbing peserta didik sehingga peserta didik dapat memahami fenomena dirinya dan lingkungannya. Dengan memiliki karakteristik-karakteristik ini, maka diyakini seorang dosen akan dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pengajar dan sekaligus pendidik karena karakteristik-karakteristik tersebut merupakan modal dasar yang mutlak dimiliki seorang dosen agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Seperti yang diuraikan sebelumnya, untuk melaksanakan tugas mengajar maka seorang dosen harus memenuhi apa yang dipersyaratkan dalam kompetensi mengajar dosen atau persyaratan profesionalisme dosen. Salah satu dari persyaratan tersebut adalah memiliki ijazah pendidikan keguruan yang formal atau memiliki akta mengajar. Dengan demikian orang yang menjadi dosen telah dipersiapkan terlebih dahulu melalui pendidikan formal. Selain itu dosen harus terus menerus belajar melalui literature atau sumber-sumber yang terkini tentang aspek-aspek pengajaran sehingga ia terus menerus melengkapi diri dengan kemampuan mengajar. Inilah yang disebut kompetensi menghajar dosen.
Pernyataan terakhir menegaskan bahwa upaya peningkatan kompetensi mengajar dosen setelah melakukan tugas mengajar pada dasarnya terletak pada diri dosen yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena ketika dosen melakukan tugas mengajar mungkin ia tidak ada yang membimbingnya dalam arti ia harus berusaha mengajar tanpa ada dosen senior yang mendampinginya oleh karena itu pengembangan kemampuan mengajar dosen berpulang pada diri dosen tersebut. Jadi salah satu alternatif yang dinilai efektif meningkatkan kompetensi mengajar dosen ini terletak pada diri dosen.
Selain kompetensi yang diuraikan diatas, motivasi berprestasi merupakan hasrat dan kecendrungan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan sebaik dan secepat mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh individu itu sendiri maupun oleh orang lain. Ini terjadi secara internal dan merupakan daya pendorong bagi setiap individu untuk mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, tanpa mempertimbangkan imbalan-imbalan yang bersifat material yang mungkin diberikan oleh lingkungan eksternalnya.
Orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki kecendrungan untuk lebih unggul dari yang lain sehingga tugas yang dipilihnya tingkat kesulitannya moderat, lebih tertarik pada pencapaian pribadi dan situasi yang dapat memberikan umpan balik secara konkrit atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, ingin lebih berhasil dalam situasi persaingan, mengerjakan pekerjaan yang menghendaki ketrampilan dan usaha, ingin mendapatkan pengakuan, mengerjakan tugas yang dianggap penting, dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan baik.
Sementara efektifitas proses pembelajaran adalah kelompok mata kuliah historika di Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar adalah usaha dosen mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam pembelajaran dalam kuliah kelompok mata kuliah historika, yang berindikator: mahasiswa mengerti setiap pokok materi kuliah mulai dari pendahuluan sampai bagian penutup dari setiap pokok bahasan.
Efektifitas proses pembelajaran tidak lain adalah membandingkan antara hasil atau prestasi yang diperoleh dengan tujuan atau pencapaian tujuan. Ini berarti efektifitas menitikberatkan pada pencapaian tujuan atau hasil yaitu membuat sesuatu yang benar didalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Disini efektifitas proses pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran.
Efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika di Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar adalah usaha dosen menolong mahasiswa dengan prosedur pembelajaran yang tepat dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam pembelajaran dalam kuliah kelompok mata kuliah historika, yang berindikator: mahasiswa mengerti setiap pokok materi kuliah mulai dari pendahuluan sampai bagian penutup dari setiap pokok bahasan.
Pencapaian tujuan pembelajaran dalam diri mahasiswa meliputi perubahan pengetahuan (kognitif), perubahan sikap (afektif), perubahan kemauan (konatif) dan ketrampilan (psikomorik) serta psikospritual (= kemapuan rohani/relasi dengan Tuhan/pertumbuhan rohani. Psikospritual = tambahan untuk perubahan yang diharapkan dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi Teologi Jurusan Teologi dan PAK Teologi Jurusan Teologi dan jurusan lainnya yang dikenal dalam lingkungan Sekolah Tinggi Teologi).
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut di atas, maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan yang positif antara kompetensi mengajar dosen, motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dan motivasi berprestasi dosen, maka makin tinggi pula efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.
Penilaian terhadap efektifitas proses pembelajaran dalam penilitian ini dapat dilakukan oleh mahasiswa, dan untuk menjaga objektivitas data yang diberikan maka dalam penelitian ini juga akan diterapkan tehnik penilaian hal yang sama. Dan untuk membantu mahasiswa dalam memberikan penilaiannya, instrumen pengukur yang digunakan dalam penelitian ini disusun dalam bentuk angket dengan tehnik skala berjenjang (ranting scale)

Contoh Perumusan Hipotesis Penelitian (dari tesis Yonas Muanley)

Sesuai dengan kerangka pikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
(1) Terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar dosen dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dosen, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.
(2) Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dosen dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi motivasi berprestasi dosen, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.
(3) Terdapat hubungan positif kompetensi mengajar dosen, dan motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, semakin tinggi kompetensi mengajar dosen dan motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.

Minggu, 24 April 2016

Motivasi Penelitian Ilmiah

Beberapa aspek yang mendorong diadakannya suatu penelitian ilmiah:
1. Keinginan tahuan manusia,
2. Permasalahan yang timbul,
3. Ilmu pengetahuan, dan
4. Metode ilmiah.

Ada dua cara yang pernah digunakan oleh para ahli dalam upaya untuk mencari tahu sesuatu pengetahuan yang baru (epistemology) yaitu dengan cara atau pendekatan rasional dan empiris. Kedua pendekatan itu di jelaskan sbb:

1. Pendekatan Rasional
Pendekatan rasional adalah suatu cara untuk mencari tahu pengetahuan yang baru dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia (internal wisdom). Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, menggunakan akal atau rasio untuk menemukan pengetahuan tersebut dari pikirannya. Dengan kata lain, pendekatan rasional dimulai dengan anggapan bahwa pengetahuan dimulai dari suatu gagasan atau pikiran yang didasarkan atas kebijaksanaan yang dimiliki seseorang.
Pendekatan rasional, segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia/idea (internal wisdom). Salah satu pemikir yang menggunakan pendekatan rasional adalah Aristotle.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ini dianggap tidak layak dan disanggah oleh beberapa ahli pada masa itu. Di antara para ahli yang mengkritik pendekatan rasional adalah Francis Bacon.
Ketidakmampuan pendekatan rasional dalam memecahkan suatu masalah diilustrasikan oleh ahli filsafat dan ilmuwan Francis Bacon yang diceritakan oleh Mees dan diterjemahkan secara bebas sebagai berikut (Howard, 1985), ilustrasinya sbb:
Pada tahun 1432 timbul pertengkaran di antara para tua-tua tentang jumlah gigi yang ada di mulut seekor kuda. Selama 13 hari pertengkaran terus berlangsung tanpa jalan keluar. Pada hari keempat belas, seorang anak muda yang memiliki maksud yang baik dan polos menyarankan untuk membuka mulut seekor kuda dan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mereka. Tangkap dia karena, kata mereka (orang-orang tua), pasti setan telah menggoda orang muda yang berani orang muda yang berani ini untuk menyatakan cara yang tidak suci dan tidak pernah didengar untuk mencari tahu kebenaran yang berlawanan dengan ajaran-ajaran para pendahulu. (Kountur, 2007:4-5)

2. Pendekatan Empiris.
Pendekatan empiris sudah dimulai kurang lebih tiga ratus tahun lalu dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Bacon, Locke, dan Hume.
Menurut pendekatan empiris,pengetahuan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi (external process). Jawaban atas suatu permasalahan ada pada obyek (ontology) di mana masalah tersebut berada dan bukan di dalam pikiran seseorang. Apa yang harus kita lakukan adalah mengamati apa yang terjadi dan membuat kesimpulan. Contohnya seperti pada ilustrasi “gigi kuda” di atas, cara yang terbaik adalah mengamati. Buka mulut kuda dan amati (dengan cara menghitung) maka permasalahan berapa jumlah gigi kuda tersebut akan segera terjawab.
Menurut pendekatan empiris, pengetahuan didapatkan atas berbagai fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi. Salah satu pendekatan empiris adalah metode ilmiah.

Metode Ilmiah

Metode Ilmiah adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah Ilmiah (mengikuti langkah-langkah dalam metode Ilmiah). Langkah Ilmiah itu dimulai dari: mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, membuat kesimpulan. Secara umum metode ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atau permasalahan penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji. Kebenaran hipotesis ini kemudian diuji dengan cara mengumpulkan data dari obyek yang diteliti, kemudian data tersebut di analisis. Berdasarkan analisis atas data tersebut, dibuat kesimpulan apakah akan menerima atau menolak hipotesis (Kountur, 2007:6-8).
Lankah-langkah Ilmiah dapat digambarkan sbb:

Tugas Akhir Kesarjanaan

Tugas akhir penelitian atau disebut tugas akhir kesarjanaan, biasanya dikenal dalam tiga macam tugas akhir kesarjanaan. Tugas akhir ini dilakukan lewat penelitian ilmiah. Ada tiga macam tugas akhir kesarjanaan yang dilakukan lewat penelitian, yaitu
1. Skripsi
2. tesis dan
3. disertasi

Perbedaan antara Skripsi dan Tesis

Dasar perbedaan Skripsi Tesis Disertasi
Tingkat kesarjanaan Strata 1 (Sarjana) Strata 2 (magister)
Jenis Penelitian Deskriptif (kuantitatif/kualitatif)
Korelasi Deskriptif (kuantitatif/kualitatif)
Korelasi
Eksperimen Strata 3 (doctor)
Deskriptif (kualitatif)
Korelasi
Eksperimen
Aplikasi Terapan Terapan
Pengujian teori
Pengembangan teori Pengembangan teori
Penemuan teori baru
Kerumitan (Banyaknya variabel yang terlibat pada penelitian kuantitatif) Sederhana
(minimum 1 variabel jika deskripstif, atau 2 variabel jika korelasi Kompleks
(minimum 3 variabel) Sangat kompleks
(minimum 5 variabel, disarankan lebih banyak)

Sumber: Ronny Kountur, 2007:13

Variabel Penelitian Pendidikan Agama Kristen

Pengertian variabel dalam konteks Pendidikan Agama Kristen diartikan konsep-konsep disekitar isi PAK yang dapat diukur ketika diteliti secara ilmiah. Dengan kata lain judul skripsi, tesis, disertasi dalam pendidikan Agama Kristen adalah judul (konsep) yang dapat diukur. Misalnya, konsep (judul) Sorga, kerajaan Allah dll adalah konsep yang tidak dapat diukur, tetapi bila dijadikan variabel maka dapat dikur. Sorga dijadikan menjadi “tingkat pemahaman warga gereja tentang Sorga”, Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kerajaan Allah” dan seterusnya. Inilah yang disebut variabel penelitian PAK.

Pengertian Variabel Penelitian

Menurut Kountur, variabel adalah bentuk yang dapat diukur dari konsep. Dengan kata lain, variabel adalah konsep yang dapat diukur.
Konsep adalah pengertian abstrak yang digunakan para ilmuwan sebagai komponen dalam membangun proposisi dan teori. Konsep juga dipakai dalam memberikan arti dari sesuatu. Misalnya, konsep tentang “raut muka”, konsep tentang “marah” memberikan arti yang berbeda dengan konsep tentang “bahagia”
Teori adalah system dari proposisi atau teori adalah kumpulan dari proposisi yang saling berkaitan.

Kerangka Konsep

Berbagai teori yang telah dikumpulkan pada landasan teori (bab II) dan telah diuraikan harus dapat menghasilkan beberapa konsep. Hubungan antara berbagai konsep yang didasarkan atas teori tersebut disebut kerangka konsep.
Kerangka konsep adalah gambaran hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dari berbagai teori yang telah dikumpulkan, akan diperoleh beberapa konsep. Apabila konsep-konsep itu dihubungkan satu sama lain, untuk memberikan suatu gambaran atas suatu fenomena, maka hubungan antara konsep inilah yang disebut dengan istilah kerangka konsep.
Untuk riset ilmu sosial, umumnya kerangka konsep digambarkan dengan menggunakan bagan-bagan yang dihubungkan dengan anak panah. Apabila hubungannya adalah sebab akibat, digunakan anak panah satu arah; sedangkan bila hubungannya adalah korelasi, digunakan anak panah dua arah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa dua konsep saling mempengaruhi (saling menunjukkan sebab akibat), maka yang digunakan adalah dua anak panah satu arah yang masing-masing menunjuk kea rah yang berlawanan.
Mengetahui sesuatu

Penelitian berhubungan dengan usaha mengetahui sesuatu, dan usaha mencari tahu jawaban atas suatu atau beberapa masalah
Ada dua cara yang pernah digunakan oleh para ahli dalam upaya untuk mencari tahu sesuatu pengetahuan yang baru (epistemology) yaitu dengan cara atau pendekatan rasional dan empiris. Kedua pendekatan itu di jelaskan sbb:

1. Pendekatan Rasional
Pendekatan rasional adalah suatu cara untuk mencari tahu pengetahuan yang baru dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia (internal wisdom). Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, menggunakan akal atau rasio untuk menemukan pengetahuan tersebut dari pikirannya. Dengan kata lain, pendekatan rasional dimulai dengan anggapan bahwa pengetahuan dimulai dari suatu gagasan atau pikiran yang didasarkan atas kebijaksanaan yang dimiliki seseorang.
Pendekatan rasional, segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia/idea (internal wisdom). Salah satu pemikir yang menggunakan pendekatan rasional adalah Aristotle.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ini dianggap tidak layak dan disanggah oleh beberapa ahli pada masa itu. Di antara para ahli yang mengkritik pendekatan rasional adalah Francis Bacon.
Ketidakmampuan pendekatan rasional dalam memecahkan suatu masalah diilustrasikan oleh ahli filsafat dan ilmuwan Francis Bacon yang diceritakan oleh Mees dan diterjemahkan secara bebas sebagai berikut (Howard, 1985), ilustrasinya sbb:
Pada tahun 1432 timbul pertengkaran di antara para tua-tua tentang jumlah gigi yang ada di mulut seekor kuda. Selama 13 hari pertengkaran terus berlangsung tanpa jalan keluar. Pada hari keempat belas, seorang anak muda yang memiliki maksud yang baik dan polos menyarankan untuk membuka mulut seekor kuda dan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mereka. Tangkap dia karena, kata mereka (orang-orang tua), pasti setan telah menggoda orang muda yang berani orang muda yang berani ini untuk menyatakan cara yang tidak suci dan tidak pernah didengar untuk mencari tahu kebenaran yang berlawanan dengan ajaran-ajaran para pendahulu. (Kountur, 2007:4-5)

2. Pendekatan Empiris.
Pendekatan empiris sudah dimulai kurang lebih tiga ratus tahun lalu dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Bacon, Locke, dan Hume.
Menurut pendekatan empiris,pengetahuan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi (external process). Jawaban atas suatu permasalahan ada pada obyek (ontology) di mana masalah tersebut berada dan bukan di dalam pikiran seseorang. Apa yang harus kita lakukan adalah mengamati apa yang terjadi dan membuat kesimpulan. Contohnya seperti pada ilustrasi “gigi kuda” di atas, cara yang terbaik adalah mengamati. Buka mulut kuda dan amati (dengan cara menghitung) maka permasalahan berapa jumlah gigi kuda tersebut akan segera terjawab.
Menurut pendekatan empiris, pengetahuan didapatkan atas berbagai fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi. Salah satu pendekatan empiris adalah metode ilmiah
Metode Ilmiah adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah Ilmiah (mengikuti langkah-langkah dalam metode Ilmiah). Langkah Ilmiah itu dimulai dari: mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, membuat kesimpulan. Secara umum metode ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atau permasalahan penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji. Kebenaran hipotesis ini kemudian diuji dengan cara mengumpulkan data dari obyek yang diteliti, kemudian data tersebut di analisis. Berdasarkan analisis atas data tersebut, dibuat kesimpulan apakah akan menerima atau menolak hipotesis (Kountur, 2007:6-8).

Motivasi mengetahui sesuatu

Ronny Kountur menyatakan:

Ingin mengetahui sesuatu merupakan salah satu sifat manusia (baca: peneliti). Sifat ingin tahu mendorong manusia (peneliti) untuk berusaha mencari tahu apa yang belum diketahui. Penelitian berhubungan dengan usaha untuk mengetahui sesuatu. Selain itu, penelitian berhubungan pula dengan usaha untuk mencari tahu jawaban atas suatu atau beberapa permasalah (masalah penelitian)


1. Masalah Penelitian dan penetapan variabel penelitian (Bab I Tesis)

Setiap penelitian ilmiah: skripsi, tesis, dan disertasi harus dimulai dengan masalah.
Memahami secara baik, apa yang dimaksud dengan masalah penelitian, akan sangat membantu peneliti dalam memaparkan latar belakang masalah secara jelas dalam bagian latar belakang masalah penelitian.
Sering terjadi bahwa apa yang dipaparkan dalam latar belakang masalah tidak menunjukkan masalah, tetapi pernyataan-pernyataan yang sifatnya bukan masalah, ada pula yang bersifat pernyataan solusi. Oleh karena itu perlu dipahami apa itu masalah penelitian?

1.1. Beberapa definisi tentang masalah penelitian ilmiah

Andreas Subagyo, mengutip pendapat Locke, Spirduso, dan Silverman tentang pengertian masalah penelitian sbb:
 Masalah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. Situasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga diraskan sebagai masalah untuk diteliti secara ilmiah. Pengalaman itu bukan saja pengalaman dalam praktik, melainkan juga dalam mengamati dua teori yang bertentangan .
Sugiyono mendefinisikan:
 Masalah penelitian adalah penyimpangan dari standar keilmuan maupun aturan yang berhubungan dengan obyek penelitian. Penyimpangan itu perlu ditunjukkan dalam data.
Pandangan lain:
 Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan
 Malasah penelitian adalah perbedaan antara teori (yang tertulis) dengan praktik (apa yang terjadi/implementasinya)


1.2. Kelayakan masalah penelitian

Menurut Sasmoko, Penelitian harus diawali dengan masalah. Maslah yang diteliti haruslah memenuhi kelayakan atau layak diteliti. Selanjutnya peneliti menguraikan masalah penelitian, yaitu dengan mendemostrasikan penguasaan masalah dengan cara menulis latar belakang masalah.

1.3. Sumber Masalah Penelitian

Sumber mendapatkan masalah penelitian

Andreas Subagyo

 Sumber masalah penelitian bisa didapatkan dengan bertolak dari teori, teologi, atau filsafat. Ada masalah di dalam bidang teologi, biblika, perbandingan agama, psikologi agama, sejarah gereja, pendidikan agama, pelayanan keagamaan dan lain-lain .

Sasmoko
 Sumber masalah penelitian dapat diperoleh melalui: pengalaman (pengalaman peneliti), deduksi teori, hasil penelitian orang lain, sumber dari inspirasi di bidang lain.
 Sumber masalah dari pengalaman. Sumber masalah yang berguna bagi peneliti adalah dari pengalaman peneliti sendiri, baik pengalaman mengajar maupun pelayanan.

2. Variabel Penelitian

Menurut Sasmoko, setiap penelitian selalu memiliki variabel, baik itu penelitian kualitatif maupun kuantitatif.
Bila peneliti merasa tidak memiliki variabel, maka peneliti pada saat itu sedang bingung.
Minimal yang harus dimiliki penelitia adalah variabel terikat (dependent variabel) atau variabel utama penelitian (Y)

Pengertian Variabel Penelitian

Variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Oleh karena itu, variabel dapat disebut atribut dari seseorang dengan yang lainnya atau objek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya
Tinggi badan, berat badan, motivasi kerja, gaya kepemimpinan, disiplin kerja, etos kerja, kinerja merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut dari obyek. Disebut variabel karena ada variasinya.

Variabel dalam penelitian kualitatif dapat disebut konsep penelitian yang dibangun oleh peneliti berdasar pada suatu teori, sehingga mengandung suatu ciri khas yang dapat diukur atau dapat menunjukkan suatu derajad. Oleh karena itu, dalam membangun hubungan di antara variable/konsep penelitian, peneliti harus mendasarkan diri pada penalaran yang bersumber dari pemikiran sendiri atau terinspirasi oleh teori yang sudah ada
Contoh variabel:
Tinggi badan disebut variabel, karena tinggi badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu orang dengan yang lainnya.
Kerlinger menyebut variabel adalah construct (konstruk atau bangunan pengertian atau sifat yang akan dipelajari)
Variabel juga disebut sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda. Artinya variabel adalah sesuatu yang bervariasi.
Namun jika ditinjau dari konsepnya, maka atribut adalah berbeda dengan variabel. Atrbut adalah konsep yang memiliki cirri khas yang dikandungnya, sehingga dapat dibedakan. pengertian atau dalam bentuk pernyataan yang telah dibentuk oleh akal peneliti dan telah diberi makna. Konsep ini sering dipergunakan dalam penelitian kualitatif, sehingga setiap peneliti memiliki otoritas dan ketergantungan terhadap teori. Contoh: wanita, Jawa, kaya, dll. Variabel adalah konsep yang mengandung cirri khas yang dapat diukur atau dapat menunjukkan suatu derajat. Contoh: sifat kewanitaan, kejawaan, kekayaan, dll. Disebut variabel, karena mempunyai arah pengukuran nominal, ordinal, interval, atau rasio.
Berdasarkan pengertian di atas, variabel dapat dirumuskan sebagai suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang atau obyek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari, didalami, dan ditarik kesimpulan.
Di samping variabel berfungsi sebagai pembeda, variabel juga dapat dilihat keterkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Fenomena social dapat dijelaskan dan diramalkan apabila hubungan antar variabel tertentu telah diketahui. Pedomannya untuk mengetahui variabel yang saling berhubungan dari sekian banyak kemungkinan yang terjadi yaitu berdasarkan pengembangan teori atau uraian tentang hakikat teori.

Beberapa contoh variabel
Variabel tipe kendaraan,memiliki atribut:
a. beroda dua
b. beroda tiga
c. beroda empat
Variabel tingkat pendidikan, memiliki atribut:
a. tidak sekolah
b. tidak tamat SD
c. SD
d. SMP
e. SMU
f. PT
Variabel Warna memiliki atribut:
a. merah
b.putih
c. biru
d. kuning dst.
Variabel status perkawinan memiliki atribut:
a. belum kawin
b. kawin
c. janda
d. duda
e.pisah
f. kebo
g. kawin saksi
h. kawin teplok
i. kawin suri
j. kawin gantung
k. kawin di bawah tangan
l. hasil cloning
m. inseminasi buatan
Dalam penyusunan kuesioner dan juga analisis data, atribut suatu variabel perlu diketahui secara lengkap. Dengan atribut-atribut tersebut, peneliti akan lebih mampu memperdalam temuannya.

3. Konstruk/bangunan pengertian Variabel yang diteliti

Konstruk atau bangunan pengertian adalah definisi peneliti yang terinspirasi berdasarkan kajian teoritis-teologis terhadap variabel yang ditelitinya. Dengan kata lain setelah kajian teori atas variabel penelitian (Y) dan (X) disusun dengan baik, maka yang harus dilakukan peneliti adalah menutup uraian teori pervariabel tersebut dengan suatu construct atau bangunan pengertian atau konsep yang dipergunakan dalam penelitian. Atau di akhir uraian setiap variabel harus disimpulkan sebuah definisi konseptual yang akan dipakai di dalam penelitian.
Construct merupakan pendapat peneliti tentang variabel tersebut, di mana maknanya akan dipergunakan sebagai landasan dalam penelitian. Construct lahir karena peneliti terinspirasi dari berbagai teori atau kajian yang disusunnya. Penempatan construct adalah pada alinea terakhir dari setiap kajian teori per variabel (hakikat variabel).
Isi yang terkandung dalam construct antara lain: definisi konseptual; dimensi; dan indikator

4. Nama-nama Variabel

Ada banyak nama variabel, tetapi yang dikemukakan disini hanya 3 variabel (yang lain dapat dipelajari dalam buku Prof. Dr. Sasmok, Metode Penelitian, hlm. 26-31)

Nama 3 variabel yang dimaksud sbb:

4.1. Variabel bebas (independent variable): sering disebut variabel stimulus, predictor, anteceden, atau juga independent variable. Variabel ini adalah variabel yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Y)
4.2. Variabel Terikat (dependent variable): sering disebut variable output, criteria, konsekuen, atau dependent variable. Variabel ini adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
4.3. Variabel Moderator adalahvariabel yang berfungsi melakukan kategorisasi dalam melakukan analisis perbedaan dari variabel bebas atau terikat
Contoh:
Kasus: suatu pusat pendidikan dan litihan sepak bola melakukan latihan dengan tehnik tertentu antara kelompok pria dan wanita. Pelatih kedua kelompok; bola yang digunakan; lapangan tempat latihan; kostum yang dipakai; tempat tidur; waktu istirahat malam; sabun mandi; dan menu makanan adalah sama.
Variabel bebas: tehnik latihan sepakbola
Variabel terikat: prestasi permainan
Rumusan masalah: apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan prestasi permainan sepakbola
Setelah dilakukan analisis: ternyata kelompok pria prestasinya lebih baik disbanding kelompok wanita
Mengapa demikian? Karena ada variabel moderatornya yaitu jenis kelamin. Jenis kelamin inilah yang memperlemah hubungan variabel bebas dengan terikat.


Kajian Teoritis-Teologis Variabel Penelitian dalam PAK
(Bab II Tesis)

Pengertian teori
Dalam bab II, biasanya dilakukan pembahasan yang berhubungan dengan topic atau variable penelitian. Dengan kata lain, judul dibahas secara tuntas dengan didukung oleh teori-teori yang relevan.
Mari kita memperhatikan penjelasan para ahli tentang teori. Menurut Kerlinger dalam Nur Indrianto dan Bambang Supomo menyatakan: teori adalah suatu kumpulan construct (bangunan pengertian) atau konsep (concepts), definisi (definitions), dan proposisi (proposition) yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan (memprediksi) fenomena alam. Dalam definisi ini diungkap tiga pokok dalam sebuah teori, yaitu:
a. Elemen teori terdiri atas: construct, konsep, definisi dan proposisi
b. Elemen-elemen teori memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena mealui penentuan
hubungan antar variabel
c. Tujuan teori adalah untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena alam

Konsep-konsep (concepts) atau construct keduanya merupakan elemen-elemen teori. Konsep dan construct mudah dikacaukan, karena keduanya memiliki pengertian yang mirip. Istilah construct menurut kanus juga berarti konsep. Akan tetapi untuk keperluan penelitian maka dua istilah ini dibedakan. Construct penelitian merupakan dasar pemikiran peneliti yang kemudian dikomunikasikan kepada orang lain. Peneliti perlu merumuskan konsep atau construct penelitian dengan baik agar hasilnya dapat dimengerti oleh orang lain dan memungkinkan untuk direplikasi atau diekstensi oleh peneliti yang lain. Misalnya, penelitian yang menguji “apakah kemampuan berkomunikasi mempunyai pengaruh terhadap prestasi akademik mahasiswa IKSM SA”. Agar dapat dinyatakan dalam rumusan masalah penelitian yang jelas (tidak ambiguitas) dan merupakan hipotesis yang dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis data, perlu kejelasan: apa yang dimaksud dengan “kemampuan komunikasi”? prestasi akademik yang mana? Siapa yang dimaksud sebagai mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan konsep dan construct penelitian” (definisi konseptual dari variabel penelitian).
Konsep mengekspresikan suatu abstraksi yang terbentuk melalui generalisasi dari pengamatan terhadap fenomena-fenomena. Konsep merupakan abstraksi dari realitas yang tersusun dengan mengklasifikasikan fenomena-fenomena (antara lain berupa: objek, kejadian, atribut, atau proses) yang memiliki kesamaan karakteristik. Misalnya prestasi akademik merupakan konsep yang mengekspresikan abstraksi dari kemampuan belajar mahasiswa antara lain dalam: mengerjakan bahasa Ibrani, menyusun laporan keuangan gereja, membuat bagan dll. Bobot adalah konsep yang menyatakan abstraksi dari suatu benda yang mempunyai karakteristik berat atau ringan. Jadi ada banyak konsep: tanah, gedung, peralatan, kendaraan, aktiva tetap, kepuasan kerja, motivasi kerja, sikap terhadap pekerjaan, pengalaman pertama, dst.
Construct sebenarnya bukan hanya merupakan konsep-konsep yang lebih abstrak, melainkan mempunyai makna tambahan yang sengaja diadopsi untuk keperluan ilmiah.
Misalnya, kepuasan sebagai konsep merupakan suatu abstraksi dari pengamatan terhadap fenomena psikologis yang dirasakan oleh seseorang. Perasaan tersebut merupakan respon seseorang terhadap obyek tertentu yang dinyatakan dengan perasaan puas atau tidak puas.
Construct kepuasan kerja merupakan abstraksi dari fenomena psikologis seseorang terhadap pekerjaan yang dapat diamati berdasarkan persepsi yang bersangkutan terhadap berbagai dimensi lingkungan pekerjaan, antara lain: (1) tugas-tugas yang dikerjakan, (2) atasannya, (3) rekan sekerja, (4) kompensasi pekerjaan, (5) promosi karier. Masing-masing dimensi lingkungan pekerjaan tersebut merupakan dimensi-dimensi construct kepuasan yang tersusun menjadi construct yang lebih abstrak yaitu kepuasaan kerja.
Construct sengaja digunakan secara sistematis untuk penelitian ilmiah melalui dua cara (1) mengoperasionalisasikan construct kedalam konsep-konsep yang dapat diamati dan diukur menjadi variabel penelitian, (2) menghubungkan construct yang satu dengan construct yang lain menjadi suatu konstruksi teori. Misalnya, inovatif dan kreatif merupakan bagian dari fungsi kepuasaan kerja dan prestasi kerja.

Beberapa aspek yang mendorong diadakannya suatu penelitian ilmiah:
1. Keinginan tahuan manusia,
2. Permasalahan yang timbul,
3. Ilmu pengetahuan, dan
4. Metode ilmiah.

Ada dua cara yang pernah digunakan oleh para ahli dalam upaya untuk mencari tahu sesuatu pengetahuan yang baru (epistemology) yaitu dengan cara atau pendekatan rasional dan empiris. Kedua pendekatan itu di jelaskan sbb:

1. Pendekatan Rasional
Pendekatan rasional adalah suatu cara untuk mencari tahu pengetahuan yang baru dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia (internal wisdom). Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, menggunakan akal atau rasio untuk menemukan pengetahuan tersebut dari pikirannya. Dengan kata lain, pendekatan rasional dimulai dengan anggapan bahwa pengetahuan dimulai dari suatu gagasan atau pikiran yang didasarkan atas kebijaksanaan yang dimiliki seseorang.
Pendekatan rasional, segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia/idea (internal wisdom). Salah satu pemikir yang menggunakan pendekatan rasional adalah Aristotle.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ini dianggap tidak layak dan disanggah oleh beberapa ahli pada masa itu. Di antara para ahli yang mengkritik pendekatan rasional adalah Francis Bacon.
Ketidakmampuan pendekatan rasional dalam memecahkan suatu masalah diilustrasikan oleh ahli filsafat dan ilmuwan Francis Bacon yang diceritakan oleh Mees dan diterjemahkan secara bebas sebagai berikut (Howard, 1985), ilustrasinya sbb:
Pada tahun 1432 timbul pertengkaran di antara para tua-tua tentang jumlah gigi yang ada di mulut seekor kuda. Selama 13 hari pertengkaran terus berlangsung tanpa jalan keluar. Pada hari keempat belas, seorang anak muda yang memiliki maksud yang baik dan polos menyarankan untuk membuka mulut seekor kuda dan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mereka. Tangkap dia karena, kata mereka (orang-orang tua), pasti setan telah menggoda orang muda yang berani orang muda yang berani ini untuk menyatakan cara yang tidak suci dan tidak pernah didengar untuk mencari tahu kebenaran yang berlawanan dengan ajaran-ajaran para pendahulu. (Kountur, 2007:4-5)

2. Pendekatan Empiris.
Pendekatan empiris sudah dimulai kurang lebih tiga ratus tahun lalu dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Bacon, Locke, dan Hume.
Menurut pendekatan empiris,pengetahuan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi (external process). Jawaban atas suatu permasalahan ada pada obyek (ontology) di mana masalah tersebut berada dan bukan di dalam pikiran seseorang. Apa yang harus kita lakukan adalah mengamati apa yang terjadi dan membuat kesimpulan. Contohnya seperti pada ilustrasi “gigi kuda” di atas, cara yang terbaik adalah mengamati. Buka mulut kuda dan amati (dengan cara menghitung) maka permasalahan berapa jumlah gigi kuda tersebut akan segera terjawab.
Menurut pendekatan empiris, pengetahuan didapatkan atas berbagai fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi. Salah satu pendekatan empiris adalah metode ilmiah.

Metode Ilmiah

Metode Ilmiah adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah Ilmiah (mengikuti langkah-langkah dalam metode Ilmiah). Langkah Ilmiah itu dimulai dari: mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, membuat kesimpulan. Secara umum metode ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atau permasalahan penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji. Kebenaran hipotesis ini kemudian diuji dengan cara mengumpulkan data dari obyek yang diteliti, kemudian data tersebut di analisis. Berdasarkan analisis atas data tersebut, dibuat kesimpulan apakah akan menerima atau menolak hipotesis (Kountur, 2007:6-8).
Lankah-langkah Ilmiah dapat digambarkan sbb:

Tugas Akhir Kesarjanaan

Tugas akhir penelitian atau disebut tugas akhir kesarjanaan, biasanya dikenal dalam tiga macam tugas akhir kesarjanaan. Tugas akhir ini dilakukan lewat penelitian ilmiah. Ada tiga macam tugas akhir kesarjanaan yang dilakukan lewat penelitian, yaitu
1. Skripsi
2. tesis dan
3. disertasi

Perbedaan antara Skripsi dan Tesis

Dasar perbedaan Skripsi Tesis Disertasi
Tingkat kesarjanaan Strata 1 (Sarjana) Strata 2 (magister)
Jenis Penelitian Deskriptif (kuantitatif/kualitatif)
Korelasi Deskriptif (kuantitatif/kualitatif)
Korelasi
Eksperimen Strata 3 (doctor)
Deskriptif (kualitatif)
Korelasi
Eksperimen
Aplikasi Terapan Terapan
Pengujian teori
Pengembangan teori Pengembangan teori
Penemuan teori baru
Kerumitan (Banyaknya variabel yang terlibat pada penelitian kuantitatif) Sederhana
(minimum 1 variabel jika deskripstif, atau 2 variabel jika korelasi Kompleks
(minimum 3 variabel) Sangat kompleks
(minimum 5 variabel, disarankan lebih banyak)

Sumber: Ronny Kountur, 2007:13

Variabel Penelitian Pendidikan Agama Kristen

Pengertian variabel dalam konteks Pendidikan Agama Kristen diartikan konsep-konsep disekitar isi PAK yang dapat diukur ketika diteliti secara ilmiah. Dengan kata lain judul skripsi, tesis, disertasi dalam pendidikan Agama Kristen adalah judul (konsep) yang dapat diukur. Misalnya, konsep (judul) Sorga, kerajaan Allah dll adalah konsep yang tidak dapat diukur, tetapi bila dijadikan variabel maka dapat dikur. Sorga dijadikan menjadi “tingkat pemahaman warga gereja tentang Sorga”, Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kerajaan Allah” dan seterusnya. Inilah yang disebut variabel penelitian PAK.

Pengertian Variabel Penelitian

Menurut Kountur, variabel adalah bentuk yang dapat diukur dari konsep. Dengan kata lain, variabel adalah konsep yang dapat diukur.
Konsep adalah pengertian abstrak yang digunakan para ilmuwan sebagai komponen dalam membangun proposisi dan teori. Konsep juga dipakai dalam memberikan arti dari sesuatu. Misalnya, konsep tentang “raut muka”, konsep tentang “marah” memberikan arti yang berbeda dengan konsep tentang “bahagia”
Teori adalah system dari proposisi atau teori adalah kumpulan dari proposisi yang saling berkaitan.

Kerangka Konsep

Berbagai teori yang telah dikumpulkan pada landasan teori (bab II) dan telah diuraikan harus dapat menghasilkan beberapa konsep. Hubungan antara berbagai konsep yang didasarkan atas teori tersebut disebut kerangka konsep.
Kerangka konsep adalah gambaran hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dari berbagai teori yang telah dikumpulkan, akan diperoleh beberapa konsep. Apabila konsep-konsep itu dihubungkan satu sama lain, untuk memberikan suatu gambaran atas suatu fenomena, maka hubungan antara konsep inilah yang disebut dengan istilah kerangka konsep.
Untuk riset ilmu sosial, umumnya kerangka konsep digambarkan dengan menggunakan bagan-bagan yang dihubungkan dengan anak panah. Apabila hubungannya adalah sebab akibat, digunakan anak panah satu arah; sedangkan bila hubungannya adalah korelasi, digunakan anak panah dua arah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa dua konsep saling mempengaruhi (saling menunjukkan sebab akibat), maka yang digunakan adalah dua anak panah satu arah yang masing-masing menunjuk kea rah yang berlawanan.
Mengetahui sesuatu

Penelitian berhubungan dengan usaha mengetahui sesuatu, dan usaha mencari tahu jawaban atas suatu atau beberapa masalah
Ada dua cara yang pernah digunakan oleh para ahli dalam upaya untuk mencari tahu sesuatu pengetahuan yang baru (epistemology) yaitu dengan cara atau pendekatan rasional dan empiris. Kedua pendekatan itu di jelaskan sbb:

1. Pendekatan Rasional
Pendekatan rasional adalah suatu cara untuk mencari tahu pengetahuan yang baru dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia (internal wisdom). Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, menggunakan akal atau rasio untuk menemukan pengetahuan tersebut dari pikirannya. Dengan kata lain, pendekatan rasional dimulai dengan anggapan bahwa pengetahuan dimulai dari suatu gagasan atau pikiran yang didasarkan atas kebijaksanaan yang dimiliki seseorang.
Pendekatan rasional, segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia/idea (internal wisdom). Salah satu pemikir yang menggunakan pendekatan rasional adalah Aristotle.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ini dianggap tidak layak dan disanggah oleh beberapa ahli pada masa itu. Di antara para ahli yang mengkritik pendekatan rasional adalah Francis Bacon.
Ketidakmampuan pendekatan rasional dalam memecahkan suatu masalah diilustrasikan oleh ahli filsafat dan ilmuwan Francis Bacon yang diceritakan oleh Mees dan diterjemahkan secara bebas sebagai berikut (Howard, 1985), ilustrasinya sbb:
Pada tahun 1432 timbul pertengkaran di antara para tua-tua tentang jumlah gigi yang ada di mulut seekor kuda. Selama 13 hari pertengkaran terus berlangsung tanpa jalan keluar. Pada hari keempat belas, seorang anak muda yang memiliki maksud yang baik dan polos menyarankan untuk membuka mulut seekor kuda dan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mereka. Tangkap dia karena, kata mereka (orang-orang tua), pasti setan telah menggoda orang muda yang berani orang muda yang berani ini untuk menyatakan cara yang tidak suci dan tidak pernah didengar untuk mencari tahu kebenaran yang berlawanan dengan ajaran-ajaran para pendahulu. (Kountur, 2007:4-5)

2. Pendekatan Empiris.
Pendekatan empiris sudah dimulai kurang lebih tiga ratus tahun lalu dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Bacon, Locke, dan Hume.
Menurut pendekatan empiris,pengetahuan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi (external process). Jawaban atas suatu permasalahan ada pada obyek (ontology) di mana masalah tersebut berada dan bukan di dalam pikiran seseorang. Apa yang harus kita lakukan adalah mengamati apa yang terjadi dan membuat kesimpulan. Contohnya seperti pada ilustrasi “gigi kuda” di atas, cara yang terbaik adalah mengamati. Buka mulut kuda dan amati (dengan cara menghitung) maka permasalahan berapa jumlah gigi kuda tersebut akan segera terjawab.
Menurut pendekatan empiris, pengetahuan didapatkan atas berbagai fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi. Salah satu pendekatan empiris adalah metode ilmiah
Metode Ilmiah adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah Ilmiah (mengikuti langkah-langkah dalam metode Ilmiah). Langkah Ilmiah itu dimulai dari: mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, membuat kesimpulan. Secara umum metode ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atau permasalahan penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji. Kebenaran hipotesis ini kemudian diuji dengan cara mengumpulkan data dari obyek yang diteliti, kemudian data tersebut di analisis. Berdasarkan analisis atas data tersebut, dibuat kesimpulan apakah akan menerima atau menolak hipotesis (Kountur, 2007:6-8).

Motivasi mengetahui sesuatu

Ronny Kountur menyatakan:

Ingin mengetahui sesuatu merupakan salah satu sifat manusia (baca: peneliti). Sifat ingin tahu mendorong manusia (peneliti) untuk berusaha mencari tahu apa yang belum diketahui. Penelitian berhubungan dengan usaha untuk mengetahui sesuatu. Selain itu, penelitian berhubungan pula dengan usaha untuk mencari tahu jawaban atas suatu atau beberapa permasalah (masalah penelitian)


1. Masalah Penelitian dan penetapan variabel penelitian (Bab I Tesis)

Setiap penelitian ilmiah: skripsi, tesis, dan disertasi harus dimulai dengan masalah.
Memahami secara baik, apa yang dimaksud dengan masalah penelitian, akan sangat membantu peneliti dalam memaparkan latar belakang masalah secara jelas dalam bagian latar belakang masalah penelitian.
Sering terjadi bahwa apa yang dipaparkan dalam latar belakang masalah tidak menunjukkan masalah, tetapi pernyataan-pernyataan yang sifatnya bukan masalah, ada pula yang bersifat pernyataan solusi. Oleh karena itu perlu dipahami apa itu masalah penelitian?

1.1. Beberapa definisi tentang masalah penelitian ilmiah

Andreas Subagyo, mengutip pendapat Locke, Spirduso, dan Silverman tentang pengertian masalah penelitian sbb:
 Masalah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. Situasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga diraskan sebagai masalah untuk diteliti secara ilmiah. Pengalaman itu bukan saja pengalaman dalam praktik, melainkan juga dalam mengamati dua teori yang bertentangan .
Sugiyono mendefinisikan:
 Masalah penelitian adalah penyimpangan dari standar keilmuan maupun aturan yang berhubungan dengan obyek penelitian. Penyimpangan itu perlu ditunjukkan dalam data.
Pandangan lain:
 Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan
 Malasah penelitian adalah perbedaan antara teori (yang tertulis) dengan praktik (apa yang terjadi/implementasinya)


1.2. Kelayakan masalah penelitian

Menurut Sasmoko, Penelitian harus diawali dengan masalah. Maslah yang diteliti haruslah memenuhi kelayakan atau layak diteliti. Selanjutnya peneliti menguraikan masalah penelitian, yaitu dengan mendemostrasikan penguasaan masalah dengan cara menulis latar belakang masalah.

1.3. Sumber Masalah Penelitian

Sumber mendapatkan masalah penelitian

Andreas Subagyo

 Sumber masalah penelitian bisa didapatkan dengan bertolak dari teori, teologi, atau filsafat. Ada masalah di dalam bidang teologi, biblika, perbandingan agama, psikologi agama, sejarah gereja, pendidikan agama, pelayanan keagamaan dan lain-lain .

Sasmoko
 Sumber masalah penelitian dapat diperoleh melalui: pengalaman (pengalaman peneliti), deduksi teori, hasil penelitian orang lain, sumber dari inspirasi di bidang lain.
 Sumber masalah dari pengalaman. Sumber masalah yang berguna bagi peneliti adalah dari pengalaman peneliti sendiri, baik pengalaman mengajar maupun pelayanan.

2. Variabel Penelitian

Menurut Sasmoko, setiap penelitian selalu memiliki variabel, baik itu penelitian kualitatif maupun kuantitatif.
Bila peneliti merasa tidak memiliki variabel, maka peneliti pada saat itu sedang bingung.
Minimal yang harus dimiliki penelitia adalah variabel terikat (dependent variabel) atau variabel utama penelitian (Y)

Pengertian Variabel Penelitian

Variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Oleh karena itu, variabel dapat disebut atribut dari seseorang dengan yang lainnya atau objek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya
Tinggi badan, berat badan, motivasi kerja, gaya kepemimpinan, disiplin kerja, etos kerja, kinerja merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut dari obyek. Disebut variabel karena ada variasinya.

Variabel dalam penelitian kualitatif dapat disebut konsep penelitian yang dibangun oleh peneliti berdasar pada suatu teori, sehingga mengandung suatu ciri khas yang dapat diukur atau dapat menunjukkan suatu derajad. Oleh karena itu, dalam membangun hubungan di antara variable/konsep penelitian, peneliti harus mendasarkan diri pada penalaran yang bersumber dari pemikiran sendiri atau terinspirasi oleh teori yang sudah ada
Contoh variabel:
Tinggi badan disebut variabel, karena tinggi badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu orang dengan yang lainnya.
Kerlinger menyebut variabel adalah construct (konstruk atau bangunan pengertian atau sifat yang akan dipelajari)
Variabel juga disebut sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda. Artinya variabel adalah sesuatu yang bervariasi.
Namun jika ditinjau dari konsepnya, maka atribut adalah berbeda dengan variabel. Atrbut adalah konsep yang memiliki cirri khas yang dikandungnya, sehingga dapat dibedakan. pengertian atau dalam bentuk pernyataan yang telah dibentuk oleh akal peneliti dan telah diberi makna. Konsep ini sering dipergunakan dalam penelitian kualitatif, sehingga setiap peneliti memiliki otoritas dan ketergantungan terhadap teori. Contoh: wanita, Jawa, kaya, dll. Variabel adalah konsep yang mengandung cirri khas yang dapat diukur atau dapat menunjukkan suatu derajat. Contoh: sifat kewanitaan, kejawaan, kekayaan, dll. Disebut variabel, karena mempunyai arah pengukuran nominal, ordinal, interval, atau rasio.
Berdasarkan pengertian di atas, variabel dapat dirumuskan sebagai suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang atau obyek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari, didalami, dan ditarik kesimpulan.
Di samping variabel berfungsi sebagai pembeda, variabel juga dapat dilihat keterkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Fenomena social dapat dijelaskan dan diramalkan apabila hubungan antar variabel tertentu telah diketahui. Pedomannya untuk mengetahui variabel yang saling berhubungan dari sekian banyak kemungkinan yang terjadi yaitu berdasarkan pengembangan teori atau uraian tentang hakikat teori.

Beberapa contoh variabel
Variabel tipe kendaraan,memiliki atribut:
a. beroda dua
b. beroda tiga
c. beroda empat
Variabel tingkat pendidikan, memiliki atribut:
a. tidak sekolah
b. tidak tamat SD
c. SD
d. SMP
e. SMU
f. PT
Variabel Warna memiliki atribut:
a. merah
b.putih
c. biru
d. kuning dst.
Variabel status perkawinan memiliki atribut:
a. belum kawin
b. kawin
c. janda
d. duda
e.pisah
f. kebo
g. kawin saksi
h. kawin teplok
i. kawin suri
j. kawin gantung
k. kawin di bawah tangan
l. hasil cloning
m. inseminasi buatan
Dalam penyusunan kuesioner dan juga analisis data, atribut suatu variabel perlu diketahui secara lengkap. Dengan atribut-atribut tersebut, peneliti akan lebih mampu memperdalam temuannya.

3. Konstruk/bangunan pengertian Variabel yang diteliti

Konstruk atau bangunan pengertian adalah definisi peneliti yang terinspirasi berdasarkan kajian teoritis-teologis terhadap variabel yang ditelitinya. Dengan kata lain setelah kajian teori atas variabel penelitian (Y) dan (X) disusun dengan baik, maka yang harus dilakukan peneliti adalah menutup uraian teori pervariabel tersebut dengan suatu construct atau bangunan pengertian atau konsep yang dipergunakan dalam penelitian. Atau di akhir uraian setiap variabel harus disimpulkan sebuah definisi konseptual yang akan dipakai di dalam penelitian.
Construct merupakan pendapat peneliti tentang variabel tersebut, di mana maknanya akan dipergunakan sebagai landasan dalam penelitian. Construct lahir karena peneliti terinspirasi dari berbagai teori atau kajian yang disusunnya. Penempatan construct adalah pada alinea terakhir dari setiap kajian teori per variabel (hakikat variabel).
Isi yang terkandung dalam construct antara lain: definisi konseptual; dimensi; dan indikator

4. Nama-nama Variabel

Ada banyak nama variabel, tetapi yang dikemukakan disini hanya 3 variabel (yang lain dapat dipelajari dalam buku Prof. Dr. Sasmok, Metode Penelitian, hlm. 26-31)

Nama 3 variabel yang dimaksud sbb:

4.1. Variabel bebas (independent variable): sering disebut variabel stimulus, predictor, anteceden, atau juga independent variable. Variabel ini adalah variabel yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Y)
4.2. Variabel Terikat (dependent variable): sering disebut variable output, criteria, konsekuen, atau dependent variable. Variabel ini adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
4.3. Variabel Moderator adalahvariabel yang berfungsi melakukan kategorisasi dalam melakukan analisis perbedaan dari variabel bebas atau terikat
Contoh:
Kasus: suatu pusat pendidikan dan litihan sepak bola melakukan latihan dengan tehnik tertentu antara kelompok pria dan wanita. Pelatih kedua kelompok; bola yang digunakan; lapangan tempat latihan; kostum yang dipakai; tempat tidur; waktu istirahat malam; sabun mandi; dan menu makanan adalah sama.
Variabel bebas: tehnik latihan sepakbola
Variabel terikat: prestasi permainan
Rumusan masalah: apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan prestasi permainan sepakbola
Setelah dilakukan analisis: ternyata kelompok pria prestasinya lebih baik disbanding kelompok wanita
Mengapa demikian? Karena ada variabel moderatornya yaitu jenis kelamin. Jenis kelamin inilah yang memperlemah hubungan variabel bebas dengan terikat.


Kajian Teoritis-Teologis Variabel Penelitian dalam PAK
(Bab II Tesis)

Pengertian teori
Dalam bab II, biasanya dilakukan pembahasan yang berhubungan dengan topic atau variable penelitian. Dengan kata lain, judul dibahas secara tuntas dengan didukung oleh teori-teori yang relevan.
Mari kita memperhatikan penjelasan para ahli tentang teori. Menurut Kerlinger dalam Nur Indrianto dan Bambang Supomo menyatakan: teori adalah suatu kumpulan construct (bangunan pengertian) atau konsep (concepts), definisi (definitions), dan proposisi (proposition) yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan (memprediksi) fenomena alam. Dalam definisi ini diungkap tiga pokok dalam sebuah teori, yaitu:
a. Elemen teori terdiri atas: construct, konsep, definisi dan proposisi
b. Elemen-elemen teori memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena mealui penentuan
hubungan antar variabel
c. Tujuan teori adalah untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena alam

Konsep-konsep (concepts) atau construct keduanya merupakan elemen-elemen teori. Konsep dan construct mudah dikacaukan, karena keduanya memiliki pengertian yang mirip. Istilah construct menurut kanus juga berarti konsep. Akan tetapi untuk keperluan penelitian maka dua istilah ini dibedakan. Construct penelitian merupakan dasar pemikiran peneliti yang kemudian dikomunikasikan kepada orang lain. Peneliti perlu merumuskan konsep atau construct penelitian dengan baik agar hasilnya dapat dimengerti oleh orang lain dan memungkinkan untuk direplikasi atau diekstensi oleh peneliti yang lain. Misalnya, penelitian yang menguji “apakah kemampuan berkomunikasi mempunyai pengaruh terhadap prestasi akademik mahasiswa IKSM SA”. Agar dapat dinyatakan dalam rumusan masalah penelitian yang jelas (tidak ambiguitas) dan merupakan hipotesis yang dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis data, perlu kejelasan: apa yang dimaksud dengan “kemampuan komunikasi”? prestasi akademik yang mana? Siapa yang dimaksud sebagai mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan konsep dan construct penelitian” (definisi konseptual dari variabel penelitian).
Konsep mengekspresikan suatu abstraksi yang terbentuk melalui generalisasi dari pengamatan terhadap fenomena-fenomena. Konsep merupakan abstraksi dari realitas yang tersusun dengan mengklasifikasikan fenomena-fenomena (antara lain berupa: objek, kejadian, atribut, atau proses) yang memiliki kesamaan karakteristik. Misalnya prestasi akademik merupakan konsep yang mengekspresikan abstraksi dari kemampuan belajar mahasiswa antara lain dalam: mengerjakan bahasa Ibrani, menyusun laporan keuangan gereja, membuat bagan dll. Bobot adalah konsep yang menyatakan abstraksi dari suatu benda yang mempunyai karakteristik berat atau ringan. Jadi ada banyak konsep: tanah, gedung, peralatan, kendaraan, aktiva tetap, kepuasan kerja, motivasi kerja, sikap terhadap pekerjaan, pengalaman pertama, dst.
Construct sebenarnya bukan hanya merupakan konsep-konsep yang lebih abstrak, melainkan mempunyai makna tambahan yang sengaja diadopsi untuk keperluan ilmiah.
Misalnya, kepuasan sebagai konsep merupakan suatu abstraksi dari pengamatan terhadap fenomena psikologis yang dirasakan oleh seseorang. Perasaan tersebut merupakan respon seseorang terhadap obyek tertentu yang dinyatakan dengan perasaan puas atau tidak puas.
Construct kepuasan kerja merupakan abstraksi dari fenomena psikologis seseorang terhadap pekerjaan yang dapat diamati berdasarkan persepsi yang bersangkutan terhadap berbagai dimensi lingkungan pekerjaan, antara lain: (1) tugas-tugas yang dikerjakan, (2) atasannya, (3) rekan sekerja, (4) kompensasi pekerjaan, (5) promosi karier. Masing-masing dimensi lingkungan pekerjaan tersebut merupakan dimensi-dimensi construct kepuasan yang tersusun menjadi construct yang lebih abstrak yaitu kepuasaan kerja.
Construct sengaja digunakan secara sistematis untuk penelitian ilmiah melalui dua cara (1) mengoperasionalisasikan construct kedalam konsep-konsep yang dapat diamati dan diukur menjadi variabel penelitian, (2) menghubungkan construct yang satu dengan construct yang lain menjadi suatu konstruksi teori. Misalnya, inovatif dan kreatif merupakan bagian dari fungsi kepuasaan kerja dan prestasi kerja.

Bab I Disertasi dengan pendekatan Metodologi Kualitatif

Para pengunjung blog. Bila Anda adalah seorang yang sedang bergumul mencari bentuk penelitian kualitatif untuk disertasi Anda tetapi tidak ada contoh maka saya hadir untuk memberi contoh disertasi dengan penelitian kualitatif. Bentuk ini saya temukan sendiri, saya lebih banyak berperan dalam mengadakan penelitian disertasi. Ada pembimbing tetapi mereka tidak punya keahlian dalam pendekatan kualitatif, mereka sudah terbiasa dengan penelitian kuantitatif. Jadi saya bekerja sendiri, mencari format penelitian kualitatif, mereka (dosen pembimbing) hanya koreksi sedikit tentang isi dan beberapa masukan dari pembimbing metodologi. Jadi saya bertindak sebagai dosen pembimbing untuk diri sendiri. Ha ha ha. Namanya penelitian Doktor, harus menemukan teori bukan hanya uji teori. Baiklah berikut ini adalah contoh penelitian untuk Disertasi dalam Bidang Pendidikan Agama Kristen yang dilakukan oleh Yonas Muanley. Bahan postingan ini hanya BAB I. Tujuan postingan ini yakni menolong para pengunjung blog yang sedang mencari bentuk penelitian dengan menggunakan METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF dengan penelitian lapangan. Rasanya metode penelitian kualitatif masih kurang dalam penelitian yang dikembangkan di Sekolah Tinggi Teologi. Itulah sebabnya Bahan Bab I ini diposting. Mohon tidak dikopi paste tanpa izin dari pemilik blog ini.

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah Penelitian


Pembelajaran adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menggambarkan kegiatan terstruktur edukatif antara pendidik dengan peserta didik, di dalam pembelajaran ada kegiatan mengajar dan belajar. Kegiatan mengajar dilakukan oleh guru dan dosen, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik.
Mengajar dan belajar atau mendidik dan belajar bukanlah sesuatu yang tidak dinarasikan dalam Alkitab, di dalam Alkitab justru terdapat banyak bukti tentang kegiatan mengajar. Memang benar bahwa mengajar yang disebutkan di dalam Alkitab tidak harus dibayangkan secara formal seperti yang terjadi sekarang ini di dalam kelas. Walaupun demikian konsep tentang mengajar dan praktik mengajar sudah ada dalam Alkitab.
Allah sendiri memulainya di taman Eden untuk dua manusia pertama, dan manusia pertama meneruskan kegiatan mendidik itu, kegiatan mendidik dan dididik (mengajar dan belajar) itu diwariskan dari generasi ke generasi manusia sepanjang zaman. Di atas telah dinyatakan bahwa Alkitab mendeskripsikan tentang mengajar. Untuk menopang epistemologi pernyataan bahwa Alkitab memaparkan bukti-bukti yang kuat tentang mengajar perlulah sebuah ontology yang tentunya beranjak dari kesaksian teks kitab suci (Alkitab).
Data-data Alkitab menunjukkan kepada setiap orang yang membacanya bahwa memang benar ada singgungan tentang mengajar dalam Alkitab. Usaha menemukan data-data tentang mengajar berdasarkan Alkitab bermaksud untuk memberi kepastian bahwa mengajar adalah bagian dari kesaksian Alkitab. Data-data itu dapat diruntut dalam ayat-ayat Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang berhubungan dengan kata mengajar dapat diperhatikan dalam nats-nats ini: Kel. 4:12, 35:34, Ul. 20:18, Hak. 13:8, II Sam. 22:35, II Raj. 12:2, II Taw. 17:7,9, Ezr. 7:10, Neh. 8:9,9:20, Ayb. 4:3, 15:5, 36:2, Maz. 18:34, 32:8, 71:17, 119:102, 144:1, Kid. 8:2. Pada ayat-ayat di atas dipakai kata “mengajar”, frasa mengajar dalam ayat-ayat ini dipakai dalam beberapa pengertian yaitu dalam arti kiasan dan literal (pembahasannya dalam kajian teori bab II disertasi). Sedangkan data-data Perjanjian Lama tentang “mendidik” dapat dilihat dalam: II Raj. 10:6, Ams. 6:23, 9:7, sementara data tentang “didikan” dapat diperhatikan dalam ayat-ayat ini: Ayb. 5:17, Ams. 1:2, 3, 7,8, 3:1, 4:1, 13, 5:12, 23, 8:33, 10:17, 12:1, 13:1, 13:18, 15:5, 10, 32, 33, 19:20. Sedangkan data Perjanjian Baru tentang “mengajar” dapat dilihat dalam: Mat. 9:35, 11:1, 13:54,21:23, 26:55, Mark. 1:21, 2:13, 4:1, 6:6, 10:1, 12:35, Luk. 4:31, 5:17, 6:6, 11:37, 12:1, 13:10, 22, 20:1, 21:37, Kis. 13:43. Sedangkan data tentang “dididik/pendidik” dalam Perjanjian Baru muncul secara dua kali, yaitu Rom. 2:20 (pendidik orang bodoh), I Kor. 4:15 (beribu-ribu pendidik dalam Kristus …).

Data di atas secara literal hanya membicarakan tentang mengajar, mendidik, didikan dan tidak membicarakan tentang pelajar atau istilah terkini peserta didik. Akan hal itu dapat dianalisis bahwa bila ada bukti-bukti mengajar di dalam Alkitab maka pastilah ada orang yang mendengar ajaran itu, orang yang mendengar ajaran itu disebut murid/peserta didik atau manusia muda yang membutuhkan tuntutanan edukatif dari orang dewasa (guru/pendidik). Alkitab sering memakai anakku dan murid. Sebutan yang terakhir banyak dipakai dalam kegiatan instruksional Yesus. Yesus pun memilih murid dan memberi pengajaran kepada murid-murid-Nya.

Memang harus disadari bahwa didaktik (proses pembelajaran) yang dibicarakan dalam Alkitab tidaklah dalam arti ilmu mengajark sebagai suatu ilmu yang bercerai/berpisah/berdiri sendiri sebagai suatu ilmu mandiri dari induknya yaitu ilmu pendidikan sebagaimana yang dikenal dalam ilmu didaktik. Tetapi yang mau ditegaskan di sini yakni kegiatan mengajar (menyampaikan pengetahuan yang berguna) supaya manusia muda yang diajar mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh sang pendidik. Kegiatan mengajar sudah dimulai oleh Allah dan diteruskan di dalam umat pilihan-Nya. Adam dan Hawa mengajar anak-anaknya, Nuh dan isterinya mengajar anak-anaknya, Abraham dan isterinya mengajar anak-anaknya dan seterusnya sampai terbentuknya Israel sebagai bangsa pilihan dan meneruskan kegiatan mengajar. Misalnya Musa mengajar umat Israel. Bukti kegiatan instruksional (mengajar dan belajar) di dalam Alkitab memberi penegasan bahwa mengajar adalah sebuah aktivitas pelayanan yang dikehendaki Tuhan. Di sini mengajar dan belajar menjadi bagian kehendak Tuhan, Ia sendiri melakakukan tugas mengajar itu, dan Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan dikarunia karunia mengajar untuk mengajar umat-Nya memahami kehendak-Nya. Maka tepatlah kata para ahli PAK, mengajar adalah tugas gereja. Yesus di dalam pelayanan-Nya penuh dengan tugas mengajar. Jadi, ada dasar yang kuat untuk percakapan dan perwujudan pembelajaran.

Adanya fakta di dalam Alkitab yang begitu kuat menyatakan tentang mengajar memberi warga pembelajar (pendidik dan peserta didik) semangat yang berkobar-kobar untuk mengajar dan belajar. Bila di dalam Alkitab terdapat banyak keterangan tentang mengajar maka dapatlah dikatakan bahwa istilah mengajar (ilmu mengajar) sebelum dikenal dan dibicarakan secara ilmiah baik di dalam suatu disiplin ilmu pendidikan umum, dan pendidikan agamawi non ekklesia Israel dan Gereja, istilah dan praktik mengajar sudah disaksikan di dalam Alkitab yang merupakan historinya Tuhan. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa tidak ada dalam kitab-kitab suci non Kristen yang memuat data begitu kuat tentang mengajar selain Alkitab. Berdasarkan alasan ini maka aksiologi pembelajaran adalah semangat untuk melaksanakan didaktik Kristus di Indonesia melalui lembaga pendidikan swasta maupun negeri, secara khusus di STT.

Paparan di atas memberi konfirmasi bahwa mengajar dan belajar di STT adalah bagian dari perintah Tuhan yang mesti dilaksanakan secara efektif. Yesus di dalam melaksanakan misi soteriologi juga memakai pendekatan mengajar sebagaimana yang dinyatakan dalam Matius 5 -7. Di dalam Matius 4:19 Yesus menyatakan apa yang menjadi tujuan Yesus memanggil murid-murid-Nya, kemudian dalam Matius 5-7 Yesus menyampaikan materi pengajaran yang sesuai dengan tujuan yang telah dicatat dalam Matius 4 :19, materi pengajaran Yesus: ucapan bahagia (pendidikan karakter/etika), hukum taurat (Mat. 5:17-48), cara memberi sedekah (Mat. 6:1-4), Cara Berdoa (Mat. 6:5-15), Cara puasa (Mat. 6:16-18), Mengumpulkan harta (Mat. 6:19-24), Pelajaran tentang kekuatiran (Mat. 6:25 – 34), Menghakimi, hal yang kudus dan berharga, Pengabulan doa, jalan yang benar, pengajaran sesat, dua macam dasar, (Mat. 7). Isi pengajaran harus disampaikan dengan cara yang efektif agar pendengar yang mendengar materi pengajaran mengalami perubahan. Yesus pun memakai metode mengajar. Metode-metode yang dipakai Yesus dalam mengajar yaitu metode ceramah atau khotbah (Mat. 5:1). Yesus mengajar sambil duduk, Yesus juga memakai metode penguatan, metode penguatan ini dapat diperhatikan dalam cara Yesus menyampaikan pujian kepada murid-murid-Nya dengan mengatakan bahwa murid-murid-Nya adalah garam dan terang dunia, garam dan terang dunia adalah kata-kata kiasan untuk menggambarkan peran para murid yaitu bahwa mereka dipanggil untuk menjadi berguna bagi sesama (bdn. Mat. 5:13-16). Ukuran efektivitas dari setiap kegitan terstruktur adalah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Yesuspun sebelum mengajar telah menentukan tujuan dan untuk mencapai tujuan itu Yesus memakai prosedur yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan yang dimaksud itu dapat dibaca dalam Mat. 4:19, sedangkan prosedur yang dipakai Yesus yaitu pemakaian metode mengajar, memakai kiasan-kiasan dalam mengajar, memilih tempat mengaja secara fleksibel tanpa terikat pada satu tempat, Yesus sering memakai bukit, pantei, perahu dan lain-lain. Salah satu murid yang membuktikan tujuan Yesus dalam Matius 4:19 adalah Petrus, ketika Petrus berkhotbah tiga ribu orang bertobat (menjadi penjala manusia). Paparan di atas menegaskan bahwa Yesus melaksanakan sebuah kegitan terstruktur yaitu mengajar, sementara murid-murid-Nya melakukan kegitan belajar. Inilah kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini merupakan kegiatan terstruktur. Ada tujuan yang hendak dicapai, ada materi untuk mencapai tujuan, ada metode untuk mencapai tujuan, ada evaluasi apakah tujuan tercapai.

Sekolah Tinggi Teologi sebagai lembaga studi yang berkonsentrasi pada panggilan keagamaan dan budaya, ikut terlibat dan melakukan proses pembelajaran tersruktur. Proses pembelajaran diartikan interaksi edukatif antara pendidik dengan peserta didik, antara sesama peserta didik, antara peserta didik dengan sumber-sumber belajar. Proses interaksi ini memberi dampak yaitu terjadinya perubahan pada peserta didik. Perubahan itu meliputi kognitif, afaketif dan psikomotorik. Serta perubahan lain yang mulai gencar dilakukan di Indonesia adalah perubahan karakter dengan mengedepankan pendidikan karakter. Tujuan pendidikan karakter agar anak memiliki karakter unggul di dalam dirinya. Efektivitas proses pembelajaran itu diukur dari ketercapaian tujuan pembelajaran yaitu penetapan standar kompetensi dan Kompetensi dasar serta indicator-indikatornya. Untuk mewujudkan itu maka dibutuhkan dosen yang memiliki kompetensi paedagogis yang mampu memikirkan secara mendalam dan merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta memikirkan bagaimana peserta didik mencapainya sehingga proses pembelajaran memenuhi kriteria efektivitas. Salah satu bagian dari kompetensi paedagogi dosen adalah mampu merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar beserta indikatornya.

Bagian yang disebutkan di atas membutuhkan apa yang disebut dengan kemampuan merumuskan tujuan instruksional. Kemampuan menyusun tujuan yaitu kemampuan dalam identifikasi masalah yaitu proses membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang seharusnya. Hasilnya akan menunjukkan kesanjangan antara kedua keadaan tersebut. Bila kesenjangan kedua keadaan tersebut besar, kebutuhan itu perlu diperhatikan atau diselesaikan. Kebutuhan yang besar dan ditetapkan untuk diatasi itu disebut maslah. Kesenjangan ini disebut kebutuhan. Hasil akhir dari identifikasi masalah adalah perumusan tujuan instruksional umum atau standar kompetensi (M.Atwi Suparman, 2001:40) Kenyataan menunjukkan bahwa perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi masalah pada dosen. Bagaimana merumuskan sebuah tujuan yang bila memakai pendekatan kurikulum berbasis kompetensi maka tujuan mata kuliah itu dirumuskan dalam bentuk kompetensi yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Ada sebagian dosen yang dapat merumusakn standar kompetensi secara baik, tetapi ada pula yang tidak mencantumkan atau memikirkan secara mendalam perubahan seperti apakah yang hendak dimiliki peserta didik setelah mengikuti mata kuliah yang diajarkan.

Sering ditemukan bahwa pendidik mengajar mengejar materi dan bukan pada tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan yang dirumuskan juga hanya sekadar mengambil dalam silabus yang sudah ada, dan atau tanpa memiliki tujuan mengajar. Sekedar menulis di silabus tetapi tidak pernah memikirkan secara mendalam akan rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indikatornya.

Beberapa ahli pendidikan seperti W. James Popham dan Eva L. Baker mengungkapkan bahwa tidak ada pendidik professional (guru dan dosen) yang sengaja berusaha mencapai hal-hal yang tidak penting. Namun masalah yang terjadi yaitu secara empiris kontekstual kekinian terdapat banyak guru yang secara tidak sadar berusaha mencapai tujuan yang tidak penting, dengan kedok berusaha mencapai tujuan yang sangat penting . Pada sisi lain ada kendala dalam mewujudkan perubahan-perubahan dalam diri peserta didik. Perubahan-perubahan itu diduga lebih banyak berhubungan dengan kognitif ketimbang afektif dan psikomotorik, terlebih lagi pembentukan karakteristik unggul yang menyatu dengan misi setiap mata kuliah. Perubahan kognitif yaitu membentuk mahasiswa dengan perubahan dalam bidang kemampuan manusia muda (mhs) dalam berpikir, sedangkan perubahan afektif yaitu perubahan peserta didik dalam aspek bersikap, sedangkan perubahan psikomotorik yaitu perubahan kemampuan peserta didik dalam melakukan gerak fisik. Proses pembelajaran bertujuan untuk perubahan, perubahan itu berkait dengan tujuan yang telah ditetapkan. Kemampuan dosen merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indicator-indikatornya Mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif: mampu memakai strategi instruksional, metode-metode instruksional, memanfaatkan media-media instruksional, melakukan doa-doa instruksional, waktu-waktu belajar instruksional, efektifitas pendidikan karakteristik unggul menurut didaktik Yesus dalam matius 5:1-16 yang terintegrasi dengan mata kuliah. Mampu mengadakan penilaian/efaluasi secara efektif. Perubahan Kognitif, Afektif dan psikomotorik serta pemilikan karakteristik unggul. Kemampuan merumusan/menentukan tujuan instruksional, Merekonstruksi Bahan Instruksional pengajaran, Kemampuan memanfatkan Media instruksional pengajaran, Proses pembelajaran yang dimaksud dalam variable penelitian ini dipahami sebagai proses interaksi antara dosen dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan sesama mahasiswa, antara mahasiswa dengan sumber-sumber belajar. Muara dari interaksi edukatif ini adalah perubahan yang meliputi kognitif yaitu perubahan pada bidang kemampuan manusia dalam berpikir, afektif yaitu perubahan pada bidang kemampaun manusia dalam bersikap, dan psikomotorik yaitu perubahan pada bidang kemampuan manusia dalam melakukan gerak fisik.( Suparman , 2001: 237 – 241) Perubahan ini dapat berlangsung dalam diri peserta didik karena berbagai factor, antara lain setting (latar) instruksional yang meliputi: fasilitas, alat, bahan, lingkungan dan sumber daya lain yang tersedia, selain itu factor lain adalah strategi instruksional yaitu urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran dan mahasiswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses instruksional untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. Berbagai komponen ini dapat dimanfaatkan untuk tercapainya efektifitas pembelajaran (tercapainya tujuan pembelajaran).
Jadi, efektivitas proses pembelajaran adalah tingkat/kondisi tercapainya tujuan instruksional yang telah ditentukan dalam suatu proses pembelajaran. Akan tetapi pengalaman proses pembelajaran sering menunjukkan bahwa mahasiswa kurang berminat mengikuti pelajaran dengan berbagai alasan. Jika mahasiswa kurang berminat mengikuti proses pembelajaran maka efektivitas proses pembelajaran pasti tidak tercapai. Dalam konteks ini ada factor-faktor yang dapat mempengaruhi untuk mengatasi minat belajar sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dalam hal ini apakah kompetensi dosen mempengaruhi efektifitas pembelajaran. Kompetensi seperti apakah yang dapat menolong mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, apakah motivasi berprestasi dosen mempengaruhi efektivitas pembelajaran?. Motivasi seperti apakah yang mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran? Proses pembelajaran yang merupakan kegitan terstruktur yang meliputi kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik dan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh pendidik (oleh guru dan dosen). Pembelajaran merupakan istilah terkini untuk merujuk pada dua kegiatan edukasi yaitu mengajar dan belajar. Pembelajaran adalah bagian dari pendidikan. Oleh karena itu maka bagian ini dimulai dengan ulasan tentang pendidikan. Pendidikan ada sejak manusia pertama yaitu Adam dan Hawa (bnd. Kej.). Di taman Eden Tuhan menjadi pendidik utama dan pertama bagi manusia pertama. Dalam perkembangan manusia, manusia mendidik generasi selanjutnya. Misalnya Adam dan Hawa mendidik anak-anaknya, Anak-anak Adam dan Hawa mendidik anak-anaknya, demikian kegiatan didaktik ini dilangsungkan sepanjang zaman. Sampai terpilihnya Israel sebagai sebuah bangsa, pendidikan itu tetap dilaksankan. Di luar bangsa Israel kegiatan mendidik pun dilaksanakan, hanya nuansa spritualnya berbeda. Bangsa Israel berbasis Yahwe sedangkan bangsa-bangsa lain disekitar Israel maupun yang jauh dari Israel melaksanakan kegiatan pendidikan berbasis keyakinan setempat atau berbasis agama samawi. Kegiatan ini berlangsung sampai datang-Nya Tuhan yang menjadi manusia yang dinamakan Yesus Kristus (bnd. Yoh.1:14). Mereka yang percaya kepada-Nya menjadi komunitas ekklesia yang akan melanjutnya tugas mengajar. Dalam komunitas Dia sepanjang hidupnya melaksanakan tugan mengajar pada umat-Nya. Di dunia ini ada berbagai kegiatan, tetapi dua kegiatan yang menjadi perhatian besar dan memerlukan beragam pengorbanan yaitu kegiatan belajar dan mengajar. Yesus yang adalah Tuhan dan juruselamat itu dalam tugas pelayanan-Nya memiliki murid yang melaksanakan kegiatan belajar (mengikuti guru-Nya), dan Yesus menjadi guru yaitu memberi pengajaran yang menakjubkan. Biasanya Yesus disebut Guru Agung. Dua kegiatan itu dirangkum dalam sebuah istilah teknis pendidikan masa kini yaitu “pembelajaran”. Pembelajaran sebagaimana yang disebut terakhir ini merupakan bagian dari pendidikan.
Kapan pendidikan ada dan berlangsung dalam kehidupan manusia? Jawabannya yakni keberadaan pendidikan dimulai oleh TUHAN dan tugas itu dipercayakan kepada manusia sehingga manusia melakukan kegiatan mendidik dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain. Pendidikan itu ada sepanjang eksistensi (keber-ada-an) kehidupan manusia. Kehidupan manusia selalu dan senantiasa diliputi dengan pendidikan. Pendidikan itu ada karena manusia sejak lahir memiliki banyak aspek eksistensi kehidupan, yaitu aspek eksistensi yang bersifat spiritual keagamaan (keyakinan/kepercayaan), kefilsafatan (cinta kebenaran), kemanusiaan, kependidikan sendiri, kesejahteraan, kebudayaan, yuridis, sosiologis, psikologis, ekonomis, dan sebagainya. Berbagai aspek eksistensi kehidupan manusia sebagaimana yang telah disebutkan disini akan berlansung secara baik apa bila ada suatu kegiatan yang disebut pendidikan. Dinyatakan demikian karena merujuk pada beberapa definisi pendidikan berikut ini. Pendidikan dalam definisinya secara etimologi kata pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata paidagogia yang berarti pergaulan dengan anak. Paidagogos adalah hamba atau orang yang pekerjaannya menghantar dan mengambil budak-budak pulang pergi atau antar jemput sekolah. Jadi, berdasarkan etimologi ini, pendidikan diartikan seni mengajar atau seni mendidik anak-anak. Searah dengan pendapat kedua ahli ini, wiji Suwarno menyatakan bahwa: istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata Paedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah di antar seorang pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan paedagogos. Oleh karena itu pendidikan disebut dalam bahasa Inggris, to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual peserta didik. Pendidikan sebagaimana yang dimaksud di atas berakar praktik manusia, khususnya praktik yang berlangsung dalam kebudayaan Romawi Kuno, khususnya dalam pengaruh bahasa Latin. Kata pendidikan dari bahasa Latin disebut ‘educare’. Educare atau pendidikan adalah kesediaan orang dewasa memberi pembimbingan secara berkelanjutan kepada orang yang belum dewasa. Inti penekanan yaitu pembimbingan secara berkelanjutan.

Merujuk pada beberapa pemahaman di atas, jelas menyatakan bahwa dalam kegiatan pendidikan selalu ada orang dewasa dan orang yang belum dewasa. Masing-masing memiliki kegiatan yang berbeda tetapi dengan tujuan yang sama yaitu perubahan (memperbaiki moral dan melatih intelektual). Dalam kata Bahasa Latin pendidikan diartikan bimbingan secara berkelanjutan. Bimbingan ini jelas dilakukan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa. Bimbingan secara berkelanjutan ini pun pastilah memiliki sasaran yang hendak dicapai, sasaran atau tujuan yang mau dicapai adalah perubahan. Perubahan itu dalam taksonomi Bloom dinamakan perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan orang dewasa dalam definisi pendidikan bila dihubungkan dalam konteks formal maka dalam dunia pendidikan maka orang dewasa dapat diartikan orang yang memiliki kelayakan secara professional untuk melakukan sebuah pekerjaan membimbing yaitu mengajar. Sedangkan orang belum dewasa dalam konteks pendidikan formal diartikan peserta didik dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi yang perlu dibimbing oleh orang dewasa (professional) untuk mengalami perubahan dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sementara dalam konteks non formal orang dewasa meliputi beragam pihak, seperti orangtua di rumah, dan masyarakat atau orang dewasa juga dapat dipahami dalam konteks non pribadi tetapi memberi perubahan seperti internet dan lain-lain.

Pendidikan diselenggarakan untuk tujuan merubah atau mentransformasi peserta didik dalam beberapa domein : 1. bidang kognitif, yakni perubahan peserta didik berupa bertambah dan makin kuatnya konsep pengetahuan yang akan menolongnya dalam kehidupan bermasyarakat dan berkarya 2. bidang afektif yakni perubahan akan bertambahnya keinsafan dan kesadaran akan fungsi dan kebermaknaan pengetahuan yang kini dimilikinya. 3. bidang psikomotor yaitu perubahan yang berkenaan dengan aktivitas fisik seperti keterampilan hidup dan pertukangan. Dengan kata lain makin berkembangnya ketrampilan yang kini dan kelak dapat menyebabkan peserta didik mampu mempertahankan diri. Dua hal yang sering dikeluhkan masyarakat yaitu mengajar dan mendidik. Ada pula yang menilai pendidik (guru dan dosen) hanya melakukan tugas mengajar dan bukan melakukan pendidikan atau mendidik. Dengan kata lain pendidik hanya melakukan tugas mengajar tidak melaksnakan kegiatan mendidik sehingga perubahan pada peserta didik dalam ranah afektif dan psikomotorik sulit tercapai. Mendidik sebagai usaha mempengaruhi dan membimbing anak dalam usaha mencapai kedewasaan tidak diwujudkan oleh pendidik, pendidik hanya mentranfer pengetahuan, hanya sekedar mengajar dan tidak mentransformasi peserta didik. Masalah yang berhubungan dengan pokok ini yakni para pendidik masa kini lebih banyak menekankan pendekatan intelektual atau intelegensi atau hanya mengajar nilai, sementara hal yang paling penting yang ikut menentukan kesuksesan berkarya diabaikan yaitu pendidikan yang merubah ketrampilan hidup dan bersosialisasi. Pokok ini terabaikan dalam pendekatan pendidikan dewasa ini. Sering peserta didik dievaluasi berdasarkan nilai ulangan bukan kemampuan anak secara menyeluruh. Kemampuan anak itu terdiri dari kognitif, afektif dan psikomotorik. Tiga kemampuan ini harus mendapat perhatian dalam proses pendidikan yang memanusiakan peserta didik dalam kelanjutan hidupnya di masyarakat. Mengajar adalah menyajikan bahan ajar tertentu berupa sejumlah pengetahuan, nilai, dan atau deskripsi keterampilan kepada seseorang atau sekumpulan orang dengan maksud agar pengetahuan yang diperlukannya sekarang atau untuk pekerjaan yang akan dijalaninya tumbuh, sehingga ia dapat mengembangkan atau meningkatkan intelegensinya secara intelektual. Untuk membandingkan perbedaan tiga kata itu maka dijelaskan bahwa mengajar merupakan sebagian kecil dari mendidik. Sedangkan mendidik memerlukan tanggungjawab lebih besar dari pada mengajar. Mendidik ialah membimbing pertumbuhan anak, jasmani maupun rohani dengan sengaja, bukan saja untuk kepentingan pengajaran sekarang melainkan utamanya untuk kehidupan seterusnya di masa depan.
Berbagai pengertian di atas menunjukkan bahwa bahwa manusia menurut keberadaan kodratnya, adalah mahluk yang bersifat labil sehingga sepanjang hidupnya tidak pernah berada dalam kecukupan, kecukupan secara lahir maupun batin, kecukupan secara individual maupun social. Oleh karena itu maka manusia yang belum dewasa (masih butuh didikan) membutuhkan bimbingan orang dewasa (orang yang lebih dewasa). Manusia itu memiliki kodrat kejiwaan, yaitu cipta (cipta mempunyai sifat kodrat mencipta/creativity), yaitu cenderung mencipta hal-hal baru yang bernilai lebih besar. Sedangkan rasa bersifat kodrat kepekaan (sensitivity), yaitu cenderung memberikan penilaian secara menyeluruh berimbang (esthetic) dalam memutuskan sesuatu. Sementara karsa yaitu manusia memiliki sifat kodrat nafsu atau keinginan berlebih (desirous). Ketiga aspek ini butuh pendidikan (tuntunan orang lain). Pendidikan sebagaimana yang dimaksud di atas berguna untuk kelangsungan hidup manusia. Ketiga aspek kejiwaan manusia yang disebutkan diatas sangat menentukan fungsinya dalam satu rangkaian kesatuan. Tanpa potensi cipta, kreativitas dalam bentuk hal-hal baru tidak mungkin dan jika tidak ada hal-hal baru, manusia pun terancam kelangsungan hidupnya. Misalnya, dalam memenuhi kebutuhan pangan, mengingat badan manusia cenderung lemah, maka manusia tidak bisa langsung mengonsumsi bahan mentah yang tersedia dari sumber daya alam. Manusia harus mengolahnya secara intensif agar ketersediaan pangan cukup dan bisa menjamin kesehatan badan. Begitu pula halnya dalam memenuhi kebutuhan sandang dan papan. Manusia harus kreatif mencipta produk-produk baru agar bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alam di mana mereka hidup. Kreativitas cipta tersebut sebenarnya selalu berhubungan dengan dorongan potensi karsa, di mana sifat kodrat karsa selalu cenderung ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik (kualitas) dan bahkan lebih banyak (kuantitas). Setiap manusia memerlukan pendidikan (pembimbingan secara berkelanjutan) agar terbina aspek lahir maupun batin, baik secara individual maupun social yang berakar pada kodrat kejiwaan manusia, yaitu cipta, rasa dan karsa. Dengan kata lain potensi cipta, rasa dan karsa pada setiap manusia perlu mendapat pembimbingan secara berkelanjutan. Disinilah manusia membutuhkan pendidikan.
Kebutuhan manusia akan pendidikan disebabkan oleh karena manusia merupakan makhluk yang bergelut secara intens dengan pendidikan. Hal ini menyebabkan manusia dijuluki sebagai animal educandum dan animal educandus secara sekaligus, yaitu sebagai makhluk yang dididik dan makhluk yang mendidik. Manusia adalah adalah makhluk yang senantiasa terlibat dalam proses pendidikan, baik yang dilakukan terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri. Pendidikan dimulai dari keluarga atas anak yang belum mandiri, kemudian diperluas di lingkungan tetangga atau komunitas sekitar, lembaga persekolahan, persekolahan formal, dan lain-lain tempat anak-anak mulai dari kelompok kecil sampai rombongan relatif besar (lingkup makro) dengan pendidikan dimulai dari guru rombongan/kelas yang mendidik secara mikro dan menjadi pengganti orangtua.
Pendidikan sebagaimana yang dimaksud di atas pada perkembangannya bergerak kearah formal, maka bermunculan sekolah dari TK sampai pada PT. Salah satu lembaga yang ikut bertanggungjawab dalam pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan adalah hadirnya sekolah-sekolah Teologi, seperti Sekolah Tinggi Teologi yang menjadi tempat penelitian ini. STT-STT sebagai lembaga pendidikan ikut bertanggungjawab dalam perubahan kognitif, afektif, psikomotorik yang diperlukan orang yang belum dewasa yang diutus dan didik dalam lembaga pendidikan teologi. Kegiatan pendidikan di STT juga adalah kegiatan yang bertumpu pada komponen-komponen pendidikan. Komponen pendidikan itu seperti tujuan, peserta didik, pendidik, alat, dan lingkungan.
Salah satu komponen dalam pendidikan yang sangat memegang peranan penting adalah tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan jantung dari proses pembelajaran. Setiap mata pelajaran atau mata kuliah yang disajikan memiliki tujuan instruksional atau bila memakai Kurikulum Berbasis Kompetensi maka tujuan Instruksional dari setiap mata kuliah harus dirumuskan dalam bentuk kompetensi yang diharapkan dapat dicapai atau diwujudkan dalam diri peserta didik setelah para peserta didik berinteraksi selama jumlah pertemuan yang ditentukan (persemester). Kompetensi itu terdiri dari Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar beserta indicator-indikator dari setiap kompetensi dasar. Upaya mencapai tujuan pembelajaran atau standar kompetensi dapat disebut efektif. Ini berarti efektivitas proses pembelajaran dari setiap mata pelajaran atau mata kuliah yang disajikan setiap semester dapat dikur dari ketercapaian tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran maka penting untuk memperhatikan proses pembelajaran. Ada berbagai komponen proses pembelajaran yang mesti diperhatikan dalam rangka efektivitas sebuah pembelajaran. Salah satu komponen yang menempati urutan pertama dan utama adalah tujuan pembelajaran. Penggunaan komponen lain dari pembelajaran mengarah pada komponen utama yaitu tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran, entah mata pelajaran atau mata kuliah manapun mesti meliputi perubahan prilaku yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Belajar akan dikatakan efektif jika peserta didik mengalami perubahan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Perubahan itu meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dari setiap peserta didik. Dengan kata lain belajar adalah suatu proses dalam diri manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan prilaku (Kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang relative tetap karena pengaruh pengalaman dan atau usaha manusia itu sendiri.
Bila perubahan ini tidak terjadi maka proses pembelajaran tidak dapat memenuhi kriteria efektivitas. Mengajar juga dapat dikatakan efektif bila mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Tujuan pengajaran juga harus mampu memberi perubahan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotoik dari peserta didik yang diajarnya. Tercapainya tujuan pembelajaran merupakan ukuran efektivitas proses pembelajaran. Disini menjadi jelas bahwa tujuan pembelajaran adalah jantung dari proses pembelajaran. Jika tidak ada tujuan pembelajaran maka pembelajaran tidak mempunyai arah, pembelajaran berlangsung secara asal-asalan, sekedar memenuhi kewajiban. Sebaliknya bila pembelajaran memiliki tujuan maka pembelajaran akan berlangsung dengan arah yang jelas. Peserta didik melakukan tugas belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran, demikian pula pendidik melaksanakan prosesdur pengajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Masalah yang mempengaruhi variable penelitian “Efektivitas Proses Pembelajaran” yaitu disinyalir secara konseptual bahwa terjadi apa yang disebut dengan lemahnya proses pembelajaran yaitu lemahnya proses pembelajaran. Artinya dalam proses pembelajaran, peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Dampaknya yaitu ketika peserta didik lulus dari sekolah atau perguruan tinggi, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi peserta didik miskin dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan di masyarakat. Jadi perlu keseriusan dalam mengelola proses pembelajaran. Keseriusan dalam menerapkan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan Standar Proses Pembelajaran.
Lemahnya proses pembelajaran” yang dipaparkan di atas memang tidak didukung secara empiris dalam argumen konseptualnya tentang lemahnya proses pembelajaran karena pernyataan di atas merupakan frasa-frasa dari pengantar bukunya yang berjudul “Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan” yang diterbitkan tahun 2006. Akan tetapi bila melihat ulasan konseptualnya tentang komponen-komponen proses pembelajaran pada halaman 59 dari judul buku yang telah disebutkan di atas maka dapat dipahami bahwa 5 komponen proses pembelajaran yang dikemukakan yaitu: (1) Tujuan, (2) Isi/Materi, (3) Metode, (4) media, (5) evaluasi merupakan komponen-komponen yang menentukan efektivitas proses pembelajaran (tercapainya tujuan pembelajaran/perubahan prilaku yang dialami peserta didik) namun diabaikan atau tidak dilakukan secara utuh. Misalnya metode pengajaran hanya berbasis ceramah yang sudah melekat dalam diri setiap pendidik, materi kuliah yang tidak mengalami revisi dari tahun ke tahun sama, bahkan ada yang sudah using, penggunaan media pun sering ditemui banyak kendala, guru dan atau dosen ingin membuat media tetapi terkendala dengan minimnya dana, ataupun terbatasnya media LCD di sekolah, evaluasi terhadap mahasiswa. Ada lembaran-lembaran jawaban yang tidak dikembalikan ataupun dikembalikan tanpa ada komentar dosen yang menunjukkan dimana letak kekurangan dan kemajuan mengerjakan soal ujian.
Fakta menunjukkan perumusan kompetensi sekadar mengikuti kebiasaan, ada pula yang tidak memiliki rumusan tujuan komptensi, ada pula yang memiliki sertivikat AA dari universitas tertentu tetapi tidak mengimplementasi, ada yang memiliki AA dari Depag RI, ada pula yang tidak memiliki AA. Keterbatasan komponen-komponen proses pembelajaran seperti media pembelajaran: LCD terbatas, Website apalagi.
Motivasi berprestasi dosen. Efektivitas pembelajaran merupakan jantung pembelajaran. Adakah pengaruh motivasi berprestasi dosen terhadap tercapainya tujuan pembelajaran. Motivasi berprestasi seperti apa yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran? Apa yang dimaksud dengan motivasi? Dapatkah motivasi mempengaruhi perilaku seseorang? Peran pembelajaran dalam perilaku dalam motivasi juga penting. Clark Hull (1952) dalam Sahlan Asnawi menyatakan bahwa Hull mengembangkan suatu teori di tahun 1940-an yang menguraikan saling hubungan antara pembelajaran dan motivasi memunculkan perilaku. Para teoritisi pembelajaran menekankan peran insentif dalam mengontrol perilaku diarahkan pada tujuan yang akan dicapai. Selain itu, telah dilakukan penelitian dengan pengkondisian klasik dan operan yang terlibat dalam munculnya motiv. Beberapa motiv dipelajari melalui pengamatan. Proses ini disebut pemodelan (modeling) yang merupakan dasar bagi sebagian besar motivasi manusia. Interaksi social. Interaksi individu satu dengan individu lainnya dapat menimbulkan motivasi. Riset psikologi social menunjukkan kekuatan kelompok dalam memotivasi individu untuk menyesuaikan diri dan kekuatan vigor yang memiliki otoritas dalam memotivasi individu untuk mentaati figure yang memberikan motivasi. Keberadaan orang lain sering mengurangi kemungkinan individu untuk memberikan bantuan dalam suatu kondisi darurat sekalipun. Situasi social memiliki pengaruh besar terhadap intensitas perilaku, dalam hubungannya dengan sikap berinteraksi terhadap orang lain. Hal ini disebabkan oleh situasi tersebut mempunyai pengaruh untuk mengubah motivasi interaksi dengan orang lain. Proses kognitif (Cognitive Process). Peran proses kognitif dalam motivasi mulai banyak dikenal. Jenis informasi yang kita terima dan bagaimana informasi itu diolah, memiliki pengaruh penting terhadap perilaku kita. Seperti teori keseimbangan Heider, teori disonasi kognitif Festinger dan teori persepsi dari Bem, menekakankan peran pengolahan informasi aktif “berpikir” dalam mengontrol perilaku. Selain itu, teori atribusi pun turut menekankan peran kognisi dalam menafsirkan orang lain-termasuk diri kita-yang menunjukkan bahwa perilaku kita sangat didasarkan pada penafsiran tersebut. Masalah Kompetensi Paedagogi. Setiap pendidik pasti menyelesaikan pendidikan pada jenjang yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas profesioanl yaitu mengajar atau memberi kuliah. Syarat ini penting karena dengan pendidikan pada konsentrasi yang sesuai dan dengan tingkat pendidikan sesuai maka seseorang dosen diharapkan memiliki kemampuan atau keahlian melaksanakan tugas mengajar, khsusnya mata kuliah yang diasuhnya. Salah satu kemampuan paedagogi yaitu setiap dosen mampu merumuskan/merekonstruksi kemampuan apa yang mesti dicapai oleh peserta didik. Bagian ini penting karena sering dijumpai bahwa ada nama mata kuliah tetapi dalam pelaksanaannya belum ada rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indikatornya. Adapula sekolah tertentu yang hanya memberi deskripsi mata kuliah tanpa merumuskan standar komptensi dan kompetensi dasardengan sejumlah indicator. Disisi lain, ada pula sekolah-sekolah Teologi yang tidak hanya memiliki deskripsi mata kuliah tetapi sudah menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indicator. Bagian ini sangat memudahkan dosen. Bila dosen tidak memiliki kemampuan paedagogis maka ia tidak dapat merumuskan salah satu komponen kompetensi paedagogis yaitu mampu merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indikatornya. Fokus utama aspek kompetensi paedagogi yang menjadi variable bebas penelitian ini adalah kemampuan dosen merumuskan tujuan pembelajaran atau jika tujuan pembelajaran itu berbasis KBK maka bagaimana dosen mampu merumuskan tujuan berdasarkan kemampuan yang mau dicapai. Dan bagaimana memakai komponen-komponen proses pendidikan untuk standar kompetensi tersebut. Pendidikan Karakteristik Unggul Berbasis Didaktik Kristus. Pendidikan karakter kini sedang gemar dilaksanakan di Negara Republik Indonesia. Hal ini disebabkan karena berbagai penyimpangan perilaku yang terjadi di Negara ini. Alkitab sebenarnya menjadi sumber untuk menggali nilai-nilai universal pendidikan karakter itu. Salah satu yang hendak diteliti adalah pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus (pengajaran Yesus) berdasarkan Matius 4:19, 5:1-16. Yesus mengajarkan tentang ucapan bahagia, dan dalam ucapan bahagia itu terkandung nilai karakter yang begitu agung yang dapat gabungkan dengan mata kuliah apapun di STT. Bila hal ini terjadi apakah terbentuk sebuah karakteristik unggul dari para peserta didik di STT yang kemudian mereka kelak nantinya menjadi pemimpin-pemimpin dalam masyarakat gereja maupun umum. Tingkat Pemahaman Dosen akan Instruksional Yesus Kristus. Injil Matius mencatat satu perintah Agung dari Yesus Kristus yaitu dalam Matius 28:19-20. Perintah Agung ini hanya dibaca dalam beberapa konteks. (1) konteks misiologis yaitu perintah untuk memberitakan Injil (2) Konteks pembinaan warga gereja (katekisasi). Adakah bidang-bidang lain termasuk dalam perintah ini? Dengan kata lain, apakah mata kuliah yang diasuh oleh dosen mata kuliah umum, mata kuliah praktika, mata kuliah historika, mata kuliah biblika, mata kuliah agama-agama dan lain-lain masuk dalam perintah Yesus Kristus? Bila ia ada dalam perintah Yesus Kristus yang oleh peneliti dengan memakai istilah Instruksional Yesus Kristus (Perintah/Amanat Agung Yesus Kristus) apakah setiap dosen bersemnagat mengajar mencapai efektivitas pembelajaran karena intrusional Yesus Kristus atau lebih kepada aspek lain, misalnya ekonomis?
Pemanfaatan Web Blog oleh dosen dalam proses pembelajaran. Kemajuan Teknologi Informasi memberi pengaruh yang luas di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, teknologi telah mempengaruhi masyarakat, khususnya dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan mulai digunakan Teknologi berbasis Internet (hubungan antara satu computer dengan computer lain di seluruh dunia). Dunia pendidikan mulai mempergunakan fasilitas internet seperti website (www) untuk proses pembelajaran. Website tersebut ada yang bersifat berbayar dan gratis. Bagian terakhir ini dikenal dengan web blog/weblog atau blog. Blog kemudian mulai dimanfaatkan dalam Proses Pembelajaran. Berdasarkan kenyataan sebagaimana yang dipaparkan di atas, ketiga peneliti terapan ini berusaha mengembangkan sebuah penelitian yang disebut dengan penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan yang dilakukan oleh mereka bermaksud untuk mencoba melihat efektifitas dan efisiensi pembelajaran dengan mengngunakan media video berbasis web untuk mata kuliah pengantar teori grah. Situs dengan alamat http://cai.elearning.gunadarma.ac.id/ telah diimplementasikan terhadap kurang lebih 50 mahasiswa. Sembilan puluh enam persen menyatakan program ini sangat menarik dan sangat membantu dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu 90 % menyatakan program ini dapat mengatasi kebosanan terhadap perkuliahan di kelas dalam bentuk metode ceramah.
Hal di atas banyak digunakan di Perguruan Tinggi umum, ada blog dosen UI, Blog Dosen UKI, Blog dosen UPI, Blog Dosen Universitas Naratoma, Blog Dosen Gunadharma, dan masih banyak lagi. Selain itu di tingkat SD – SMA ada blog guru, Blog Kimia, Blog Biologi, Blog Matematika, dan lain-lain. Sementara di dunia Perguruan Tinggi Teologi, sedikit yang mempublikasikan tulisannya di Blog, baik yang berbasis blogspot maupun wordpress. Para dosen enggan menggunakan fasilitas weblog atau blog yang gratis seperti: wordpress, blogspot dan lain-lain untuk dijadikan sebagai media pembelajaran bahkan dapat dijadikan ragam media pembelajaran terhadap mata kuliah yang diasuhnya. Sementara fasilitas yang tersedia dalam kedua weblog yaitu blogspot dan wordpress sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai media instruksional pembelajaran dari setiap mata kuliah. Blog memang sifatnya gratis tetapi tampilan blognya (templatenya) dapat dibuat sedemikian rupa sehingga akan nampak seperti website professional. Pada tahun 2009, peneliti mulai mengenal blog yang berbasis blogspot kemudian wordpress. Pada tahun 2011 peneliti mulai memanfaatkan blog untuk mengisi blog dengan materi mata-mata kuliah yang diasuh oleh peneliti. Tahun 2011 juga menekuni secara mandiri pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran. Silabus, Materi Kuliah dan tugas-tugas mahasiswa mulai dimasukan dalam blog. Tahun 2012 mulai menata blog secara professional, ada tombol-tombol navigasi untuk menghantar pembaca atau mahasiswa ke halaman-halam blog, seperti halaman website/blog untuk silabus, halaman untuk standar Kompetensi dan Kompetensi dasar, halaman tugas-tugas mahasiswa, halaman untuk kontak dengan dosen. Selain itu atas motivasi sendiri merintis sebuah blog dengan nama: Merintis Penggunaan Blog Oleh Dosen di STT IKSM Santosa Asih. Adapun blog-blog yang dikelola untuk mata kuliah yang diasuh yaitu sebagai berikut:

Blog-blog yang sudah dibuat untuk mahasiswa STT IKSM Santosa Asih, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel, STT Paulus bermaksud untuk melihat sejauh mana efektivitas pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran dengan efektivitas proses pembelajaran di STT.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat diidentivikasi sejumlah masalah pada efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel, STT Paulus sebagai berikut:

1. Ada indikasi sebagian dosen di STT masih menerapkan pembelajaran berbasis materi dan bukan berbasis tujuan atau efektivitas proses pembelajaran di STT.
2. Ada indikasi bahwa sebagian dosen hanya memanfaatkan apa yang sudah ada.
3. Ada indikasi bahwa rumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator-indikatornay tidak dilaksanakan secara baik atau kompetensi paedagogik dalam merumuskan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator-indikatornya dengan kata kerja operasional yang relevan untuk domein kognitif, afektif dan psikomotorik kurang diperhatikan secara baik.
4. Ada indikasi bahwa dosen tidak mengimplementasi pembuatan kontrak pembelajaran, silabus dan SAP sesuai teori pelatihan yang telah diperoleh dalam pelatihan Applied Approach yang diselenggarakan oleh Universitas maupun oleh Dirjen Bimas Kristen Protestan.
5. Ada indikasi bahwa belum tampak adanya keinginan/motivasi berprestasi dari dosen dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran. 6. Ada indikasi bahwa pembelajaran setiap mata kuliah kurang terintegrasi dengan pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus Kristus dengan mata kuliah yang diasuhnya.
7. Ada indikasi bahwa dosen di STT memiliki blog, baik yang berbasis wordpress.com (www.wordpress.com), blogspot.com (www.blogspot.com) tetapi belum dimanfaatkan untuk proses pembelajaran terhadap mata kuliah yang diasuhnya.

8. Ada indiaksi bahwa dosen di STT kurang memanfaatkan Blog gratis (blogspot dan wordpress), khususnya hosting wordpress. Sementara banyak universitas-universitas di di Indonesia telah memanfaatkan blog untuk keperluan pembelajaran, misalanya blog terbaik adalah blog Dosen dan Mahasiswa Universitas Naratoma, dan disusul dengan universitas lainnya, di STT sangat jarang memanfaatkan weblog untuk proses pembelajaran, pada hal wordpress dan blogspot menjadi media yang sangat relevan untuk dosen mempublish tulisan-tulisan akademis, termasuk mata kuliah

9. Ada indikasi bahwa dosen di STT kurang memanfaatkan weblog berbasis free weblog (wordpress dan blogspot.com dll) untuk mata kuliah yang diasuhnya dalam proses pembelajaran. 10. Diduga dosen di STT engan memasukan kontrak pembelajaran, silabus dan materi kuliah dalam weblog yang dapat diakses mahasiswa secara online. 11. Ada indikasi dosen kurang memanfaatkan media pembelajaran online
12. Ada indikasi dosen lebih banyak memanfaatkan papan tulis sebagai media pembelajaran
13. Ada indikasi dosen kurang memanfaatkan metode pembelajaran secara fariatif
14. Ada indikasi dosen hanya menggunakan metode kuliah atau ceramah pada setiap kali pertemuan.
15. Ada indikasi bahwa dosen hanya menggunakan evaluasi kognitif
16. Ada indikasi bahwa dosen kurang menggunakan evaluasi untuk ranah afektif dan psikomotorik 17. Ada indikasi bahwa dosen tidak menulis bahan ajar secara baik


C. Pembatasan Masalah


Berdasarkan identivikasi masalah di atas menjadi jelas bahwa ada banyak variabel yang mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Variabel-variabel yang mempengaruhi itu disebut variable bebas (independent variable), yang mempengaruhi variable pokok/utama yang telah ditetapkan sebagai variable terikat, variable ini biasa disimbolkan dengan Y, sedangkan variabel bebas disimbolkan dengan X (X1, X2, X3, X4 dst.) Dalam penelitian ini sesuai identifikasi masalah maka variable bebas dibatasi pada kompetensi paedagogis (X1/ identifikasi masalah no. 1), motivasi berprestasi dosen (X2/identifikasi masalah no.3 ), integrasi pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus (X3/identivikasi masalah no. 8), pemanfaatan weblog (free weblog/blog) dalam proses pembelajaran (X4/identifikasi masalah no.4). Apakah lima variable itu mempengaruhi efektivitas atau tercapainya tujuan pembelajaran yaitu perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan kata lain, berdasarkan sejumlah masalah di atas, perlu dibuat batasan masalah penelitian dengan maksud agar secara penelitian ini dilakukan secara terarah, selain itu efektivitas waktu, dana dan daya untuk menyelesaikannya. Dengan demikian fokus penelitian ini diarahkan pada beberapa variable bebas yaitu: Kompetensi Paedagogis Dosen, Motivasi Berprestasi Dosen, integrasi Pendidikan Karakteristik Unggul Berbasis Didaktik Yesus Kristus dengan mata kuliah, Pemanfaatan Free WebBlog Sebagai Bahan Ajar Online dan sebagai Media Instruksional. Variabel-variabel ini sifatnya independen dan memiliki pengaruh terhadap variable utama disertasi ini yaitu: efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel.
br/> D. Perumusan Masalah Penelitian ini memerlukan pertanyaan pengarah yang hendak dirumuskan dalam bentuk rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh kompetensi paedagogis dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 2. Bagaimana pengaruh motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 3. Bagaimana pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 4. Bagaimana pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 5. Bagaimana pengaruh kompetensi paedagogis dosen, motivasi berprestasi dosen, pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus, pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran secara sendiri-sendiri dan bersama-sama berpengaruh terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?

E. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sejaumana pengaruh kompetensi paedagogis dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 3. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus terhadap efektivitas proses 4. pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? 5. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemanfaatan blog sebagai bahan ajar online dan media pembelajaran terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?

F. Manfaat Penelitian

Secara Teoritis

1. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangsih bagi pengembangan disiplin ilmu praktika yaitu Pendidikan Agama Kristen di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel dalam pergumulan terhadap efektivitas pembelajaran dan efektivitas lembaga pendidikan Teologi 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diwujudkan menjadi buku untuk refrensi PAK dalam efektivitas pembelajaran dengan berbagai variable yang berhubungan dengannya.

Secara Praktis

1. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi empat STT tentang efektivitas proses pembelajaran 2. Memberi kontribusi bagi para dosen di empat STT untuk memanfaatkan free weblog (blogspot dan wordpress) untuk dijadikan sebagai media pembelajaran secara online. 3. Memberikan kontribusi kepada para dosen untuk terus meningkatkan motivasi berprestasi.

Submit blog